Semua fasilitas tersebut berasal program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), dan program kolaborasi berdasarkan SK Bupati Tahun 2015. Seluruh fasilitas tersebut sudah selesai dibangun, dan diresmikan Minggu (7/1).

Peresmian secara simbolis ditandai dengan pemotongan pita, dan potong tumpeng oleh Bupati Sleman Sri Purnomo. Tampak hadir menyaksikan peresmian itu, Satker Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral Daerah Istimewa Yogyakarta (DPUD-ESDM DIY), anggota DPRD Kabupaten Sleman Dapil Depok, Muspika Kecamatan Depok, Kepala Desa Condongcatur, serta mantan Kepala Desa Condongcatur Marsudi.

Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Desa Condongcatur, Suprihadi menjelaskan, program pembangunan KOTAKU berasal dari anggaran APBN dan program Kolaborasi dari APBD Kabupaten Sleman. “Karena semua pembangunan sudah rampung, dan berjalan sesuai jadwal yang ditentukan, maka Minggu kiemarin semua diresmikan bupati,” katanya, Senin (8/1).

Pembangunan berbagai fasilitas tersebut menelan dana miliaran rupiah. Suprihadi menjelaskan,

di Prayan Wetan Padukuhan Kaliwaru, telah dibangun gedung pertemuan, pekerjaan jalan, forniture jalan, resapan, talud tebing, dan pengadaan tong sampah, dengan menelan dana Rp 531.397.000.

Berikutnya, di Nggaten Padukuhan Dabag, dibangun jalan, resapan, renovasi pos ronda, talud tebing, drainase, dan pengadaan bak sampah dengan menelan dana yang sama yakni Rp 531.397.000. “Dana tersebut berasal dari dua sumber, yaitu APBN dan APBD Kabupaten Sleman,” ungkapnya.

Berikutnya, di dua padukuhan lain, yakni Padukuhan Soropadan dibangunkan jalan berupa jalan berpaving yang menelan dana Rp 500 juta. Sementara di Padukuhan Ngropoh dibangun gedung serbaguna dan gedung PAUD dua lantai, dengan dana pembangunan Rp 2 miliar lebih.

“Khusus di Ngropoh, dibangun dua gedung yakni gedung serbaguna sebagai sarana olahraga, balai pertemuan warga dan umum. Kedua gedung serbaguna, di mana gedung serbaguna tersebut terdiri dari dua lantai, lantai dasar digunakan sebagai gedung PAUD, sementara lantai atas digunakan sebagai kantor dukuh. Pembangunan tersebut menelan biaya Rp 2.771.174.000,” jelasnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo memberikan apresiasi terhadap pembangunan di Desa Condongcatur tersebut. Menurut bupati, Pemdes Condongcatur telah berhasil bersinergi dengan masyarakat, sehingga berhasil menata kawasan yang dulunya kumuh tidak bermanfaat, menjadi kawasan yang sehat layak huni.

Meski demikian, SP–panggilan akrab Bupati Sri Purnomo, mengingatkan pentingnya perubahan sikap dan perilaku masyarakat. “Selain diupayakan dengan peningkatan kualitas infrastruktur, dan peningkatan akses masyarakat terhadap infastruktur dan pelayanan, tentu juga harus diimbangi dengan perubahan sikap dan perilaku masyarakat itu sendiri,” katanya.

Dikatakan, dengan telah diresmikannya beberapa fasilitas umum di wilayah Condongcatur ini, yang notabene sebelumnya tempat-tempat tersebut merupakan tempat kumuh, maka secara otomatis mengurangi wilayah-wilayah kumuh di Sleman.

Kegiatan penanganan kumuh di Kabupaten Sleman sendiri diawali dengan pendataan pada tahun 2014 di seluruh desa. Berdasarkan hasil pendataan, diperoleh prioritas penanganan kawasan kumuh hingga 2019 sebanyak 17 desa dan 45 titik, dengan luasan 162,93 Ha. “Sleman menargetkan pada tahun 2018 mampu mengurangi kawasan kumuh 35,5 Ha dan pada 2019 berkurang 58,63 Ha, sehingga pada 2020 tercapai 0% kawasan kumuh,” tandasnya.

Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Sleman yang telah merealisasikan serta meresmikan beberapa fasilitas umum di Condongcatur melalui program KOTAKU dan Kolaborasi. “Semoga dengan diresmikannya beberapa bangunan dan fasilitas umum di wilayah Condongcatur ini, dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” kata Reno, panggilan akrab Kades Condongcatur. (**/nn/jko/mg1)

Desa