SLEMAN - Kopi dalam bentuk sachet sudah banyak. Tapi jika kopi dikemas dalam bentuk tablet buih rasanya menjadi ide orisinal yang dicetuskan mahasiswa Jason Edward Victoria, mahasiswa semester 4 Sistem Informasi Fakultas Teknik Industri (FTI) UPN "Veteran" Yogyakarta.
"Sempat ada ide membuat kopi dalam bentuk tablet buih yang bisa larut dalam air," kata Jason di sela kick off program fast track Technopreneurship yang digagas FTI UPN “Veteran” Yogyakarta bersama Bio Hadikesuma Management Training & Consultant (BHMTC) Sabtu (7/3).
Selama ini model tablet buih baru untuk produk vitamin C. Karena itu mahasiswa asal Bekasi, Jawa Barat itu menilai kemasan kopi dalam tablet buih tersebut menjadi salah satu inovasi yang bisa dikembangkan.
Meski diakuinya hal itu baru dalam taraf ide. Tapi melalui program fast track dia berharap bisa mengeksplorasi idenya tersebut.
"Ingin tahu caranya mengeksekusi ide dan menerapkannya menjadi sebuah bisnis," jawabnya saat ditanya alasan mengikuti program fast track tersebut. "Ya harapannya setelah lulus sudah ada bisnis sendiri."
Dekan FTI UPN Veteran Yogyakarta Dr Awang Hendrianto Pratomo menyebut, fast track tersebut menjadi bagian dari mata kuliah technopreneurship. Yaitu dengan mengkolaborasikan teknologi dan kewirausahaan. Selama ini, lanjut Awang, ide-ide tersebut hanya selesai menjadi bahan skripsi.
"Harapan kami bisa mewujudkan bisnis dengan memanfaatkan teknologi ataupun teknologi tersebut yang dibisniskan," ungkapnya.
Awang menambahkan, kegiatan ini juga menjadi upaya kampus untuk mendorong mahasiswa bisa menjadi wirausaha. Diakuinya saat ini mayoritas alumni FTI UPN "Veteran" Yogyakarta bekerja atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
"Yang menjadi wirausaha masih bisa dihitung dengan jari," katanya.
Founder BHMTC Bio Hadikesuma mengatakan, melalui program ini dia ingin membawa konsep entrepreneurship langsung ke dalam ekosistem kampus.
Dia pun menawarkan konsep baru dalam kelas technopreneur tersebut. Yaitu dengan konsep experiment based. Tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih mengembangkan ide hingga menjadi produk yang siap dipasarkan.
"Kami minta mahasiswa mengemukakan ide, lalu kami datangkan mentor untuk membantu menggali dan mematangkan gagasan tersebut. Target akhirnya bisa menjadi aplikasi atau bahkan bertemu investor," ungkapnya
BHMTC, lanjut dia, berperan sebagai ecosystem builder. Yaitu dengan menghubungkan mahasiswa dengan berbagai peluang pengembangan bisnis, termasuk akses ke inkubator, pengurusan hak cipta hingga kemungkinan investasi dari kampus.
"Jadi ketika lulus, mahasiswa tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga punya produk, pengalaman bisnis, bahkan potensi pendapatan," kata Bio.
Editor : Heru Pratomo