SLEMAN - Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menginjak usia ke-80.
Delapan dekade FK-KMK menegaskan peran strategisnya dalam mencerdaskan dan memajukan kesehatan bangsa.
Rektor UGM Prof Ova Emilia mengatakan, FK-KMK UGM telah banyak mengukir prestasi baik di lingkup universitas, nasional, bahkan internasional.
Selama 80 tahun, FK-KMK berkontribusi dalam pembangunan kualitas pendidikan kedokteran di Indonesia.
"Apa yang menjadi tumpuan harapan itu digenggam oleh generasi-generasi yang akan datang dan di situlah harapan dari pengembangan institusi FK-KMK dan UGM berada," ujarnya saat membacakan sambutan dalam acara Peringatan Dies Natalis FK-KMK UGM ke-80 di Auditorium FK-KMK UGM, Kamis (5/3/2026).
Ia mengibaratkan perjalanan panjang FK-KMK UGM seperti pohon bambu yang memiliki akar kokoh dengan batang yang tidak akan patah oleh badai. Pergerakannya dinamis menyesuaikan angin.
"Pohon bambu juga memiliki akar kokoh yang menghujam dan mampu membuatnya tetap berdiri tegak saat badai berlalu," bebernya.
Tren perkembangan penyakit, teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, krisis geopolitik global, hingga perubahan kondisi sosial ekonomi memicu perubahan lanskap pelayanan kesehatan nasional.
Di usianya ke 80 tahun, FK-KMK diharapkan bisa menjadi jawaban atas keresahan dan mengikuti kebutuhan zaman.
"Kami percaya bahwa resiliensi, adaptasi, dan agility menjadi kata kunci untuk membuat inovasi dan lompatan baru agar terus bertahan di tengah badai tekanan krisis dan tantangan perubahan zaman," jelasnya.
Dekan FK-KMK UGM Prof Yodi Mahendradhata menyampaikan segudang pencapaian yang telah dilakukan.
Salah satunya meluncurkan Breast Cancer Initiative yang merupakan bagian dari penetapan Kota Jogja sebagai Horizon City pertama di Indonesia.
Yogyakarta Breast Cancer Initiative ini diharapkan menjadi model implementasi layanan kanker yang efektif dan berkelanjutan.
"Model yang menghubungkan antara kebijakan nasional, bukti ilmiah, dan praktik layanan yang terbaik dalam satu gerakan kolaborasi," ujarnya.
FK-KMK UGM juga aktif menyalurkan tenaga medis ke daerah terdampak bencana se-Indonesia.
Misalnya, banjir bandang di Aceh Utara, tim yang diterjunkan membantu untuk memulihkan kembali operasional rumah sakit.
Kemudian, menginisiasi Health Emergency Operating Center di Dinas Kesehatan Aceh Utara, memperkuat sanitasi, pengelolaan sampah, menyerahkan logistik medis, melatih penggunaan gas medis, dan sebagainya.
"Jejak panjang kontribusi FKKMK UGM dalam tanggap bencana sejak tsunami Aceh, gempa Jogja, gempa Padang, erupsi Merapi, gempa Palu, hingga gempa Cianjur," jelasnya.
Adapaun, akselerasi peningkatan jumlah doktor di FK-KMK, pada 2025 menjadi 340 doktor. Sementara pada 2021 hanya 272 doktor.
"Peningkatan dari 47 persen menjadi 51 persen di tahun 2025. Kita juga bersyukur FKKMK berhasil mengakselerasi peningkatan proporsi guru besar dari 8,1 persen pada 2021 menjadi 9,47 persen pada 2025," tegasnya. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita