BANTUL - Suasana Ramadan di ruang Intensive Care Unit (ICU) menghadirkan makna puasa yang lebih mendalam, ketika sakit menjadi momentum refleksi diri kesehatan.
Seperti suatu malam di ruang ICU, seorang ayah menggenggam tangan anaknya di tengah bunyi monitor jantung dan tetesan infus menjadi potret bagaimana sakit dan harapan berjalan beriringan.
Dosen Magister Administrasi Rumah Sakit UMY, dr. Qurratul Aini, M.Kes., menuturkan, ruang perawatan menghadirkan makna takwa yang lebih hakiki.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga belajar menerima takdir dengan sabar dan tawakal.
“Di rumah sakit, kita belajar bahwa tubuh memiliki batas. Gaya hidup serba cepat, pola makan berlebihan, stres pekerjaan, dan abai terhadap kesehatan mental menjadi fenomena kekinian yang berdampak nyata,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena penyakit kronis seperti jantung, diabetes, maupun gangguan cemas yang kini banyak menyerang usia produktif menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan.
Puasa sejatinya adalah terapi. Secara medis, pengaturan waktu makan yang benar dapat memperbaiki metabolisme.
Secara spiritual, ia membersihkan jiwa dari keserakahan.
“Rasulullah bersabda dalam, tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya,” jelasnya.
Di ruang rawat inap, hadits ini terasa hidup. Sakit bukan kutukan, tetapi penggugur dosa dan penguat jiwa.
Ramadan juga mengajarkan efisiensi dan pengendalian diri. Dalam konteks kesehatan, ini berarti bijak menggunakan sumber daya, tidak berlebihan dalam konsumsi, dan membangun sistem pelayanan yang adil.
Di tengah tantangan pembiayaan kesehatan dan lonjakan pasien, nilai sabar dan ihsan menjadi fondasi etika pelayanan.
“Ramadan di rumah sakit mengajarkan kita bahwa sehat adalah nikmat yang sering terlupakan. Ketika adzan Maghrib berkumandang dan keluarga pasien berbuka dengan air putih di lorong rumah sakit, kita menyadari bahwa kebersamaan dan kesehatan jauh lebih mahal daripada hidangan mewah,” terangnya. (*/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita