SLEMAN - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto mendapatkan serangan digital. Teror terjadi usai dia mengkritik pemerintah atas peristiwa anak bunuh di Nusa Tenggara Timur. Tidak hanya dialami dirinya, teror ini juga semakin meluas karena menyasar ibunya. Termasuk sekitar 30 anggota BEM UGM yang lain.
Tiyo mengaku pesan yang disampaikan peneror ini serupa. Dirinya disebut memanipulasi uang kartu Indonesia pintar kuliah (KIP Kuliah). Padahal, BEM sama sekali tidak ada relasi dengan penyaluran bantuan ini. Narasi yang lain adalah bahwa dirinya menyewa ladies companion (LC) saat karoke maupun menjadi anggota LGBT.
Awalnya dia memetakan ada enam pesan yang masuk, enam dari WhatsApp dan dua dari Instagram. Namun, kini meluas ke media sosial lain, seperti TikTok. Pesan penghinaan dan ancaman muncul lebih banyak lagi. Sekaligus semakin sulit untuk dilacak. Tidak hanya sampai di situ, minggu lalu bahkan dia mengaku dibuntuti oleh dua orang saat berada di kedai dan memfoto dirinya. Saat ingin dicek, dua orang tersebut sudah menghilang.
"Ancaman pembunuhan sampai ke saya sebagai informasi, tapi kami merasakan teror luar biasa karena tidak bisa mengonfirmasi langsung karena anonim," katanya.
Baca Juga: Gunung Berapi Kilauea di Hawaii Erupsi Menyemburkan Lava Hingga Setinggi 1.500 Kaki
Dia menegaskan, BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti mengawal berbagai persoalan publik. Tidak akan ada yang beda dari BEM UGM selepas dari teror ini.
Dalam kesempatan ini dia turut mengungkapkan kekecewaannya atas respons pemerintah. Mestinya ada pesan yang disampaikan pada publik bahwa kebebasan akademik dan perlindungan akan diberikan. Baginya, yang terpenting bukan mengetahui siapa pelaku teror, tapi jaminan kehadiran negara.
"Kewaspadaan lebih adalah cara kami belajar, tapi jangan bayangkan gara-gara teror ini kami kemudian berhenti," katanya.
Baca Juga: Hujan Berkepanjangan, Rumah Iswanto di Banjaroyo Kalibawang Kulon Progo Tertimbun Longsor
Sementara itu, Ketua Presidium KIKA Rina Mardiana mengecam keras seluruh bentuk teror, intimidasi, doxing, penguntitan, dan ancaman kekerasan terhadap mahasiswa serta keluarganya. Dia mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh, transparan, dan akuntabel terhadap para pelaku teror. Termasuk mendorong pimpinan perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk memperkuat perlindungan terhadap mahasiswa dan dosen yang menyampaikan kritik akademik dan kebijakan publik.
"Kami mengajak masyarakat sipil dan kalangan media untuk terus mengawal kasus ini secara
kritis," katanya. (del/eno)