RADAR JOGJA – Hujan deras disertai angin kencang terjadi hampir merata di sejumlah wilayah di Jogjakarta. Imbasnya sebuah baliho berukuran besar di jalan Adi Sucipto Kalurahan Caturtunggal, Depok Sleman tepatnya seberang Museum Affandi roboh. Alhasil aliran listrik di sejumlah wilayah Kapanewon Depok dan Kemantren Gondokusuman mati.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan menuturkan robohnya baliho sekitar Senin sore (18/10). Papan baliho berukurn 8 meter X 4 meter ini tepat menimpa jaringan listrik di bawahnya. Walau begitu, dia memastikan tak ada korban jiwa atas kejadian ini.

“Baliho langsung dibereskan oleh pemilik baliho atau vendor. Agar listrik yang mati bisa segera menyala,” jelas Makwan melalui sambungan telepon, Senin malam (18/10).

BPBD Sleman juga mencatat sejumlah pohon roboh. Pertama di jalan Demang Ronggowarsito, Jetis, Caturharjo Kapanewon Sleman. Lalu pohon tumbang di Medari Cilik, Caturharjo Kapanewon Sleman. Adapula pohon Munggur berdiameter 50 centimeter di Jetis, Caturharjo Kapanewon Sleman.

“Semuanya langsung dipotong-potong oleh warga dan relawan setempat. Memang sempat menutup jalan tapi sekarang sudah terkondisi. Tidak ada korban jiwa,” katanya.

Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta telah menerbitkan peringatan dini. Berupa potensi terjadinya hujan deras disertai angin kencang di sejumlah wilayah di Jogjakarta. Kondisi ini diprediksi terjadi dari 15.00 WIB hingga 18.00 WIB.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menuturkan sebaran awan hujan atau cumolonimbus merata. Hanya saja intensitas hujan sedang hingga lebat terkonsentrasi di Sleman barat, Sleman timur dan Sleman selatan. Adapula di Kota Jogja, Kulonprogo bagian timur dan Gunungkidul bagian barat.

“Curah hujan yang tercatat dari radar cuaca memiliki intensitas bervariasi antara 15 milimeter hingga 30 milimeter. Pantauan wilayah tersebut itu terjadi hujan deras disertai kilat dan angin kencang,” ujarnya.

Reni memaparkan Jogjakarta saat ini masuk dalam musim pancaroba. Masa peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan. Sementara awal musim penghujan terjadi antara minggu ke 3 dan ke 4 di Oktober 2021.

Walau begitu Reni mengingatkan potensi cuaca ekstrem justru terjadi saat fase pancaroba. Berupa hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir. Tingginya intensitas hujan juga berpotensi memunculkan genangan air di beberapa titik.

“Pada masa pancaroba akumulasi curah hujannya tinggi potensi terjadinya cuaca ekstrem biasanya lebih sering dibandingkan pada saat awal memasuki awal musim penghujan,” katanya. (dwi)

Breaking News