RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta melaporkan adanya peningkatan aktivitas Gunung Merapi dalam sehari, Jumat (1/1). Dalam rentang 1X24 jam terjadi 108 guguran dan 115 hembusan. Lalu tercatat pula 1 gempa low frekuensi, 378 gempa fase banyak dan 126 gempa vulkanik dangkal.

Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida memastikan aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi. Meski sempat landai medio Desember bukan berarti aktivitas menurun. Terbukti dengan meningkatnya kembali aktivitas menjelang 2021.
“Benar sesuai laporan ada aktivitas selama Jumat. Diantaranya 108 guguran dan 115 hembusan. Guguran sempat terdengar dari beberapa stasiun pengamatan terutama PGM Babadan,” jelasnya, Sabtu (2/1).

PGM Babadan, lanjutnya, melaporkan adanya suara guguran. Terdengar sebanyak 15 kali dari arah puncak Gunung Merapi. Intensitas kekuatan suara terdengar sedang hingga keras.

Untuk pantauan visual, terlihat guguran pula dari PGM Babadan. Berupa 1 guguran dengan jarak 15 kilometer ke arah Kali Lamat. Peristiwa ini terpantau pukul 15.56, Jumat (1/1). Terpantau pula asap berwarna putih dengan ketinggian 450 meter.
“Untuk deformasi sudah mencapai 21 centimeter perhari. Kondisi ini sudah terpantau selama 3 hari belakangan,” katanya.

Terkait status, Hanik memastikan masih Siaga atau Level III. Radius bahaya pada level ini berjarak 5 kilometer dari puncak. Dalam rentang radius tersebut dilarang ada aktivitas warga maupun wisata.

Untuk kawasan Sleman, zona bahaya meliputi Dusun Kalitengah Lor, Dusun Kaliadem dan Dusun Pelemsari di Kapanewon Cangkringan. Kebijakan evakuasi berlaku bagi kelompok rentan dalam zona tersebut.

“Saat ini terlaporkan pengungsi terutama di Dusun Kalitengah Lor sudah turun sejak November lalu. Terutama untuk kelompok rentan. Kami akan terus mengabarkan perkembangan aktivitas Merapi demi keamanan warga,” ujarnya. (dwi/ila)

Breaking News