RADAR JOGJA – Aksi Gejayan Memanggil tetap berlanjut meski telah melewati batas waktu. Aksi yang awalnya berlangsung di ruas simpang tiga Colombo jalan Affandi berpindah ke simpang tiga UIN Sunan Kalijaga. Para peserta aksi enggan membubarkan diri meski telah ada imbauan dari jajaran Polda DIJ.

Para peserta memutuskan tinggal hingga Jumat malam (14/8). Bahkan aksi bakar kertas dan kayu berlangsung pukul 18.25. Imbasnya tiga ruas jalan yang menuju simpang tiga UIN Sunan Kalijaga ditutup.

“Dalam aksi ini kami menyatakan enam poin keberatan atas Omnibus Law. RUU Cipta Kerja tidak menjawab kebutuhan rakyat indonesia dari aspek ekonomi, pendidikan, dan ketenaga kerjaan,” jelas Humas aksi Gejayan Memanggil Lusi, Jumat (14/8).

Keenam poin tersebut di antaranya menolak dengan tegas pengesahan RUU Cipta Kerja. Poin kedua menolak upaya sentralisasi kekuasaan melalui konsep Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Lalu menolak penyederhanaan regulasi terkait perizinan amdal dan aturan pertambangan.

Ada pula tuntutan jaminan kehadiran negara dalam terciptanya ruang kerja yang aman, bebas diskriminatif dan dapat memenuhi hak maupun perlindungan terhadap buruh. Poin kelima menolak sentralisasi sistem pengupahan buruh, potensi maraknya tenaga kerja outsourcing. Berujung dikebirinya hak-hak buruh seperti cuti, jam kerja tidak jelas, dan PHK sepihak.

“Poin keenam menolak sektor pendidikan dimasukkan ke dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja dan mendesak pemerintah menghentikan praktik liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi pendidikan serta wujudkan demokratisasi kampus,” katanya.

Peserta aksi menyoroti potensi ancaman tingginya pengangguran. Merupakan imbas gencarnya pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor formal dan informal. RUU Cipta Kerja, lanjutnya, tidak menjadi jaminan akan tersedianya lapangan pekerjaan. Khususnya yang mengedepankan hak-hak tenaga kerja yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.

“Disisi lain permasalahan ekonomi Indonesia tidak berkutat kepada inventasi saja, melainkan kualitas kelembagaan yang masih rentan akan praktik korupsi yang menghambat perputaran ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Selama aksi berlangsung, penjagaan ketat dilakukan oleh pihak kepolisian. Tujuannya untuk mengantisipasi adanya provokasi dan aksi kerusuhan. Hingga berita ini ditulis, aksi bakar ban, kertas dan kayu masih terus berlanjut.(dwi/tif)

Breaking News