RADAR JOGJA – IYA alias Yopi dituntut hukuman 2 tahun penjara. Pria berusia 36 tahun ini dituntut atas tragedi Susur Sungai Sempor Donokerto, Turi Sleman. Peristiwa ini mengakibatkan 10 nyawa siswi SMPN 1 Turi meninggal dunia.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sleman Sihid I memastikan tuntutan telah sesuai kajian perkara. Terdakwa, lanjutnya, terbukti bersalah atas kejadian tersebut. Dikuatkan dari hasil penyidikan maupun keterangan puluhan saksi.

“Terdakwa Yopi turut serta melakukan perbuatan, karena kesalahan atau kelalaiannya menyebabkan orang lain mati dan orang lain luka-luka,” tegasnya dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Sleman, Kamis sore (30/7).

JPU menegaskan bahwa Yopi terbukti memenuhi unsur pidana. Diantaranya terangkum dalam Pasal 359 KUHP dan 360 (2) KUHP junto Pasal 55 (1) ke-1 KUHP. Sanksi dari pasal ini adalah pidana penjara selama 2 tahun. Tentunya dikurangi masa tahanan.
Dalam persidangan ini juga terungkap peran Yopi. Mulai dari merencanakan susur sungai, meninggalkan para siswa hingga mangacuhkan peringatan warga. Walau akhirnya sosok ini sempat membantu evakuasi dan menenangkan siswa yang selamat.

Keluarga terdakwa, lanjutnya, juga telah bertemu keluarga korban. Dalam kesempatan itu turut diberikan santunan kepada seluruh keluarga korban. Dalam pertemuan tersebut, keluarga korban telah memaafkan terdakwa dan menganggap kejadian ini sebagai musibah.

“Terdakwa mengaku bersalah dan menyesal dan sebelumnya belum pernah dihukum. Ini yang meringankan tuntutan kepada terdakwa,” katanya.

Persidangan yang dijadwalkan pukul 09.00 ini baru dimulai pukul 13.00. Untuk persidangan dengan terdakwa Yopi berlangsung hingga 17.00. Sementara untuk tersangka R, 58, dan DDS, 58, dilanjutkan setelah Magrib.

Penasehat Hukum terdakwa Oktryan Makta telah menyiapkan materi pledoi. Dia berharap JPU maupun majelis hakim tidak melihat tragedi ini sebagai kesalahan Yopi seorang. Tentunya harus melihat dalam lingkup luas atas penyebabnya.
“Klien kami tidak mengelak atas terjadinya musibah itu tapi juga jangan melihat pertanggungjawabannya atas klien kami saja,” ujarnya.

Yopi diketahui memiliki peran sentral atas tragedi 21 Februari silam. Bersama dua rekan lainnya R dan DDS, Yopi mengarahkan 249 siswa menjalani susur Sungai Sempor. Sayangnya agenda ini tak mematuhi acuan SK Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No 227 Tahun 2007.
Diketahui giat susur sungai tak memenuh persyaratan vital. Seperti survei lokasi, meminta izin ke Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus) maupun orang tua siswa. Hingga pendampingan TNI/Polri serta SAR.
Kegiatan ini juga dilakukan tanpa persiapan matang. Terbukti dari keterangan para saksi yang juga peserta susur sungai. Tidak adanya peralatan keselamatan seperti pelampung, alat komunikasi serta kesehatan. Hingga tetap lanjut walau cuaca tak mendukung.

“Kalau dakwaan itu subjektifitas JPU, tapi kalau nilai hukuman yang diajukan 2 tahun untuk seorang guru itu berat. Dia ini tulang punggung keluarga, punya istri dan anak. (Vonis) setahun saja melihatnya tetap berat,” katanya.

Persidangan terhadap terdakwa Yopi yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Annas Mustaqim dilanjutkan Senin (3/8). Agendanya adalah mendengarkan pembelaan atau pledoi dari penasehat hukum terdakwa. (dwi/ila)

Breaking News