RADAR JOGJA – Pembukaan kembali destinasi wisata di wilayah Kabupaten Sleman akan dilakukan secara bertahap. Namun sebelumnya akan dipastikan kesiapannya dalam menerapkan protokol kesehatan mencegah persebaran Covid-19.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah mengadakan simulasi penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 terhadap hotel dan dua destinasi wisata yakni Tebing Breksi dan Candi Ijo, kemarin (12/6).

Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) menjelaskan dibukanya kembali destinasi wisata harus memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Sehingga, aktivitas wisata bisa berlangsung secara aman. Dengan dibukanya kembali aktivitas wisata di Sleman dan memperhatikan protokol kesehatan, diharapkan kasus Covid-19 tidak bertambah dan perekonomian rakyat kembali berjalan.

SP melakukan pengecekan secara langsung di lapangan. Menurutnya, objek wisata Tebing Breksi dinilai siap untuk menyambut wisatawan. Hal ini dibuktikan dengan pegecekan suhu tubuh sebelum memasuki kawasan wisata dan lebih dari 40 wastafel telah disiapkan. “Dipastikan pula penggunaan masker baik untuk kartawan, pelaku usaha, dan pengunjung,” jelas SP kemarin (12/6).

Memiliki tempat yang luas, wisata Tebin Breksi memudahkan pengunjung untuk menjaga jarak. Nantinya, petugas juga akan mengatur arah pejalan kaki agar tidak terjadi penumpukan di bagian atas tebing. SP mengaku, akan melakukan pantauan di setiap destinasi wisata agar tetap menjalankan protokol kesehatan. “Kami akan menerjunkan tim pemantau tidak terlihat untuk mengawasi manajemen pelayanan kepada pengunjung wisata,” tambahnya.

Meskipun belum ada sanksi tegas jika protokol kesehatan tidak dijalankan, SP berharap pembukaan destinasi wisata tidak akan memunculkan klaster baru positif Covid-19 di Sleman. Oleh karena itu, pengelola wisata dan wisatawan diharapkan menjalankan protokol kesehatan Covid-19 dengan ketat.

Selanjutnya, pengecekan wisata juga akan dilakukan oleh Pemkab Sleman di wilayah Lereng Merapi. Meskipun telah menyatakan kesiapan wisata Tebing Breksi dan Candi Ijo untuk menerima pengunjung, SP belum bisa memastikan kesiapan wisata lainnya di wilayah Sleman.

Ketua Pokdarwis Sambirejo Mujimin menuturkan pengelola wisata Tebing Breksi telah menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) menyambut kebijakan dibukanya kembali objek wisata yang harus dipatuhi terkait protokol kesehatan. Mulai dari SOP bagi pengunjung, SOP bagi pengelola, SOP kuliner, dan SOP jeep wisata.

Menurut Mujimin, fasilitas pendukung yang telah disiapkan seperti menyiapkan 55 wastafel di 15 titik, pengadaan alat pengecek suhu tubuh, penyediaan APD bagi pengelola, pembuat imbauan melalui audio serta pendirian posko kesehatan. Bagi setiap pengunjung, akan diwajibkan memakai masker, pengecekan suhu tubuh dan dilanjutkan cuci tangan. “Kami juga berikan imbauan melalui pengeras suara agar pengunjung melakukan social distancing,” tutur Mujimin.

Sedangkan bagi para pengunjung yang berencana menginap di Balkondes, yang lokasinya juga di area wisata Tebing Breksi, diwajibkan untuk membawa surat keterangan sehat. Selain itu, sebelum diizinkan menginap, pihak pengelola juga akan meminta informasi riwayat perjalanan pengunjung sebelumnya.

Di Kabupaten Gunungkidul, mulai 15 Juni mendatang, wisata yang dikelola swasta dipersilakan beroperasi. Sementara objek wisata mulai uji coba dibuka 22 Juni mendatang.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, ada persyaratan khusus izin operasi wisata yang dikelola swasta. Salah satunya melakukan simulasi pelayanan sesuai protokol kesehatan sekaligus menyosialisasikan kepada publik.“Jika sudah dilakukan diperkenankan buka 15 Juni,’’ kata Hary Sukmono kemarin (12/6).

Wisata swasta atau usaha jasa pariwisata (UJP) yang dimaksud adalah hotel dan restoran. Untuk kepentingan persiapan operasinoal, kemarin dilakukan sampling ke sejumlah tempat. Salah satunya di rumah makan wilayah Semanu. “Simulasi dilakukan untuk melihat kesiapan pengelola untuk menyambut kedatangan wisatawan,” ujarnya.

Kepala Dispar Kabupaten Gunungkidul Asti Wijayanti mengatakan, objek wisata yang dikelola swasta dipersilakan buka namun harus melakukan simulasi mandiri dan melibatkan masyarakat sekitar. “Sehingga tidak menimbulkan polemik,’’ jelasnya.

Simulasi kemarin berlangsung di Gua Kalisuci. Minggu depan Pantai Baron, dan Pantai Kukup, serta Gunung Api Purba Nglanggeran. Dalam uji coba ini, wisatawan diperbolehkan masuk ke objek wisata, namun dalam jumlah terbatas. Petugas juga melakukan memeriksa kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan, seperti pemeriksaan suhu dan juga menyiapkan tempat cuci tangan.”Jangan sampai ada klaster dari lokasi wisata, itu bisa memperburuk citra pariwisata,” ungkapnya.

Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kalisuci Muslam Winarto mengaku telah sudah menyiapkan protokol kesehatan untuk menyambut wisatawan. Seperti menyediakan tempat cuci tangan, hingga pengaman wajah untuk wisatawan dan pemandu. “Peralatan hanya sekali pakai, kemudian didekontaminasi. Kami juga menyemprotkan cairan desinfektan setiap hari,” kata Muslam.

Ke depan pengunjung juga dibatasi. Jika sebelum ada virus korona bisa menampung 250 orang per hari, sekarang dikuurangi menjadi 100 orang. Untuk tiket masuk tetap Rp 120.000 per orang. (eno/gun/din)

Breaking News