RADAR JOGJA – Dampak perekonomian akibat pandemi korona belum juga berakhir. Berhentinya beberapa aktivitas seperti lapak atau kios yang tutup di Pasar Beringharjo, berimbas pada penghasilan yang didapat para buruh gendong di pasar terbesar di DIJ ini.

Tak sedikit buruh gendong ada yang memutuskan tidak bekerja sementara waktu. Ini karena penghasilan yang didapat juga tidak seberapa saat ini. “Total buruh gendong laki-laki dan perempuan ada sekitar 200-an. Beberapa ada yang tidak datang mburuh sekarang,” tutur Ponirah, salah seorang buruh gendong Pasar Beringharjo, kemarin (6/5).

Wanita asal Kulonprogo ini sudah sejak tahun 1980-an menjadi buruh gendong di Beringharjo. Saat ditemui Radar Jogja, dia menyampaikan keluh kesahnya saat korona ini, yakni penghasilannya menjadi seret. “Biasanya sehari bisa dapat Rp 50 ribu, sekarang kadang Rp 25 ribu, kadang Rp 20 ribu. Kadang ndak dapat apa-apa,” keluhnya.

Saat wabah korona ini, buruh serabutan yang di hari-hari biasa penghasilannya tidak menentu menjadi semakin miris. “Kulo kaleh konco-konco niku mboten nate mathok regi. Kadang enten sing maringi Rp 2 ribu, enten sing Rp 5 ribu. Meniko enten sing longgar nggih maring Rp 10 ribu nopo Rp 15 ribu. Tergantung yang ngasih,” kata Ponirah.

Hal yang sama dirasakan Tukiyah. Dia tetap memilih bekerja ke pasar. Dia mengaku lebih baik ke pasar dengan harapan tetap ada yang meminta jasanya. “Lha di rumah juga tidak ada apa-apa. Dari pada tidur mending ke pasar. Siapa tahu nanti di sini dapat rezeki,” tutur wanita asal Kulonprogo itu.

Tiap pagi mereka berangkat dari rumah pukul 07.30 dengan naik kendaraan umum, yaitu bus. Saat ditemui koran ini sekitar pukul 09.30, mereka belum ada juga yang meminta jasanya. “Kadang jam segini sudah dapat tiga sampai empat orang, sekarang blas dereng wonten,” paparnya.

Perubahan waktu buka dan tutup pasar juga menjadi salah satu faktor. “Sini itu biasanya ramai sekali, sekarang sepi. Kalau sepi begitu kan ya kami juga banyak nganggurnya,” ungkapnya.

Para buruh gendong mengharapkan dapat bantuan untuk menyambung hidup mereka. Mereka juga berharap korona segera usai, sehingga dapat kembali bekerja seperti biasa, aktivitas normal. “Harapannya Beringharjo kembali ramai. Jadi kami bisa mencari rezeki dengan lancar. Karena Beringharjo ini sumber penghasilan kami,” harap Tukiyah diamini teman-temannya. (cr1/laz)

Breaking News