RADAR JOGJA – Menghadapi pagebluk Covid-19, penyandang disabilitas yang tergabung dalam Koperasi Simpan Pinjam Bangun Akses Kemandirian Difabel (KSP Bank Difabel) berinisiatif memberikan bantuan kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di DIJ. Ini juga menjadi bukti akan kemandirian dan solidaritas kelompok difabel di tengah masa krisis ini.

Ketua KSP Bank Difabel Ngaglik Kuni Fatonah menjelaskan, bantuan langsung diserahkan kepada Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Paku Alam X. Mereka mendonasikan 1.000 masker dan 50 alat pelindung diri (APD) berupa coverall.

“Ini menjadi contoh bahwa kalangan difabel tak hanya berperan menjadi objek, melainkan juga menjadi subjek dalam penanganan wabah korona,” jelas Kuni Fatonah di Kompleks Kepatihan, kemarin (6/5).

Bantuan yang didonasikan diharapkan dapat dibagi oleh Gugus Tugas kepada warga Jogja, khususnya pedagang pasar tradisional yang belum memiliki masker. Adapun coverall bisa disalurkan untuk petugas medis maupun tenaga kesehatan di rumah sakit.

Dia menjelaskan, wabah korona memberikan masa sulit bagi masyarakat Jogja. Termasuk kalangan penyandang disabilitas yang juga merupakan kelompok rentan. Banyak difabel yang kehilangan mata pencariannya.

“Mayoritas difabel menjadi perajin, pedagang, dan berwirausaha. Pandemi ini sangat memberikan tantangan karena banyak yang berhenti mendapat setoran dan orderan, ” tandasnya.

Karena sebagian besar anggota memiliki keahlian menjahit, komunitas memutuskan untuk memproduksi masker dan APD yang juga menjadi kebutuhan utama masyarakat dan tenaga medis. Keputusan itu dianggap sesuai di tengah masa pandemi ini.

Produk masker dan coverall dikerjakan oleh 15 anggota. Tidak semua difabel memiliki kualitas jahitan yang sama. Tiap individu memiliki karakteristik berbeda. “Untuk yang pertama kami pastikan dua minggu bisa produksi 800 APD dan berhasil. Kami kerjakan bersama dan menunjukkan bahwa ini bisa kami lakukan,” katanya.

Sejauh ini KSP Bank Difabel mampu memproduksi 2.000 coverall APD dalam rentang waktu satu bulan. Sebagian disumbangkan, adapun sisanya dijual. “Kami sampaikan ke RS PKU Bantul, juga ada yang dijual di luar daerah. Dengan adanya produk ini sangat membantu perekonomian teman-teman difabel,” jelasnya.

Sejumlah kendala ditemui saat proses produksi dilakukan. Selain terbatasnya mobilitas akibat korona, kelangkaan bahan baku juga jadi masalah. Pasalnya, sebagaian besar masyarakat juga memburu bahan baku itu. “Kami harus berebut dan berpesan kepada penyedia. Jadinya harus cekatan untuk dapatkan bahan baku itu,” ungkapnya.

Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Ma’ruf menjelaskan, kegiatan murni digelar atas inisiatif kelompok difabel. Menurutnya, ini menjadi kegiatan sosial yang digelar untuk kali kedua. Sebelumnya, KSP Bank Difabel pernah menghimpun donasi di level desa.

“Sekarang mereka produksi masker dari kain perca, diolah sendiri dan diupah. Upahnya dari potongan pendapatan yang dapat dari pesanan. Disubsidikan silang untuk upah yang mengerjakan. Sekarang didonasikan untuk warga,” tandasnya.

Kegiatan ini juga menunjukkan bentuk kemandirian dan solidaritas kelompok difabel. Diharapkan dapat memotivasi masyarakat lain untuk turut berkontribusi. “Komunitas lain, apalagi nondifabel harusnya lebih sigrak (semangat). Teman difabel bisa sigrak dan berani berkontribusi riil. Jangan diliat nilai rupiahnya, namun spirit dan solidaritasnya,” kata Ma’ruf. (tor/laz)

Breaking News