Titik Kusumawardani dan Hendra Purnama adalah kakak beradik yang unik. Keduanya sama-sama menjadi andalan Tim Nasional Panahan Indonesia. Namun, banyak orang yang mengira kedua sosok itu pasangan kekasih. Bagaimana ceritanya?

HERY KURNIAWAN, Jogja, Radar Jogja

Radar Jogja kemarin (26/3) pagi berkesempatan mengikuti kegiatan Hendra dan Titik. Setiap pagi, dua pemanah asli Bantul itu menjalani program latihan fisik di Stadion Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Ya kami setiap hari kaya gini, bareng terus,” kata Hendra.
Nah, karena terlalu sering berlatih bersama, bersekolah di sekolah yang sama dan juga sama-sama masuk ke tim nasional, banyak yang mengira Titik dan Hendra adalah pasangan kekasih. Menurut Hendra, hal itu wajar. Sembari tertawa dia menyebut lantaran wajahnya tidak begitu mirip dengan sang kakak.”Saya kan gelap kulitnya, sementara Mbak Titik kan putih, dan sipit gitu,” jelas Hendra sembari tertawa.
Hendra menyatakan bahwa latihan fisik itu sangat penting bagi atlet. Termasuk atlet panahan. Menurut Hendra, selama ini masih banyak pihak yang beranggapan bahwa panahan itu yang terpenting adalah konsentrasi dan skill saat memanah. “Padahal untuk bisa tampil prima juga perlu fisik yang bagus,” jelasnya.

Bahkan, menurut Hendra program latihan fisik yang diberikan pelatih panahan itu tidak berbeda jauh dengan cabang olahraga lain yang memang terlihat mengandalkan kemampuan fisik prima. “Kalau saya bilang level latihan kami itu hampir menyamai mereka yang di bola voli maupun sepak bola,” ujarnya
Sebelum menjadi atlet andalan Tim Nasional Panahan seperti saat ini, Titik dan Hendra mengalami perjuangan yang panjang. Kedua sosok itu sempat mengalami kesulitan dalam membeli alat-alat panahan.
Kendati demikian, Titik dan Hendra merasa beruntung lantaran memiliki keluarga besar yang sangat mencintai panahan. Bagaimana tidak, ayah dari Titik dan Hendra adalah atlet yang kemudian menjadi pelatih panahan. Begitu pula dengan tiga kakak mereka yakni Ana Widayati, Rahmat Sulistiyawan, dan Edy Sudrajat.

Hendra dan Titik sudah rutin berlatih sejak masih duduk di sekolah dasar. Menariknya, Hendra yang empat tahun lebih muda dari Titik justru lebih dulu berlatih ketimbang sang kakak. “Ya dulu awalnya saya nggak boleh latihan sama bapak, pas kelas enam baru boleh,” ujar Titik.
Sudah hidup ala atlet sejak kecil terkadang membuat Hendra dan Titik merasa jenuh. Menurut keduanya hal tersebut sangat manusiawi. Namun Hendra dan Titik memiliki ritual khusus untuk mengembalikan semangat berlatih mereka. “Kalau saya biasanya nonton film atau baca novel, kalau Hendra sih kadang suka main sepak bola,” kata Titik.

Motivasi Titik dan Hendra memang harus tetap terjaga. Pada Juni mendatang akan berlangsung sebuah kejuaraan dunia panahan di Jerman. Kejuaraan tersebut menjadi ajang kualifikasi bagi para atlet yang ingin berlaga di Olimpiade Tokyo, Jepang 2020.

Namun, sebelum berlaga di Jerman dan kemudian di Jepang, Titik dan Hendra harus lolos seleksi yang dilakukan Perpani Pusat terlebih dahulu. Seleksi tersebut hingga kini masih belum dilakukan. “Ya sampai saat ini belum ada seleksi, tapi nanti kalau lolos seleksi semoga bisa main di Olimpiade bersama-sama,” tandas Titik. (din)

Boks