RADAR JOGJA – Harga beberapa bahan pangan masih mengalami peningkatan. Harganya masih tinggi. Kenaikan harga tersebut terjadi sejak bebarap waktu menjelang perayaan Tahun Baru Imlek yang dilaksanakan besok (25/1).
Kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas bumbu dapur. Di antaranya, cabai, bawang merah, dan bawang putih. Kenaikannya antara 5 hingga 10 persen.
Berdasarkan pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ, harga cabai masih tergolong tinggi. Harga cabai merah keriting berkisar Rp 52 ribu per kilogram. Cabai rawit merah seharga Rp 67 ribu tiap kilogram. Sedangkan bawang merah dipatok seharga Rp 26 ribu per kilogram dam bawang putih kating senilai Rp 34 ribu tiap kilogram.
Pada dasarnya, harga sejumlah komoditas itu telah naik sejak awal 2020. Sebabnya, stok menipis dan permintaan tinggi, terutama menjelang perayaan hari besar seperti Imlek. Minimnya stok dipengaruhi produktivitas petani yang menurun. Ini disebabkan faktor cuaca di musim penghujan.
”Dampaknya ada peningkatan harga. Pada saat tertentu, jika sudah ada keseimbangan, berarti sudah ada stok masuk untuk memenuhi pasar,” jelas Kepala Disperindag DIJ Aris Riyanta kemarin (24/1).
Meski ketersediaan stok cabai menipis, Aris menjamin ketersediaan yang ada masih sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat hingga musim panen mendatang. Untuk menekan kenaikan harga, DIJ mendatangkan cabai dari luar wilayah seperti Muntilan di Jawa Tengah. Kendati demikian, dia mengaku belum mengetahui secara riil jumlah cabai yang didatangkan dari luar DIJ tersebut.
Disinggung mengenai penyelenggaraan operasi pasar bahan pangen, Aris mengaku tak berniat menggelarnya. Sebab, operasi pasar dilakukan untuk mengawasi harga dan ketersediaan bahan pokok seperti beras, gula, terigu, dan minyak.
”Kalau cabai kan ada yang orang tidak suka. Yang jelas, kebutuhan (cabai) masih tercukupi,” paparnya.
Dia mengimbau masyarakat untuk berbelanja secukupnya. Juga, mencari alternatif atau beralih ke produk olahan dari cabai atau bawang merah. ”Jangan memborong, biar banyak masyarakat yang bisa menikmati komoditas,” tegasnya.
Masyarakat juga bisa lebih teliti membandingkan harga di pasar rakyat dan pasar moederen. Sebab, ternyata ada beberapa komoditas yang harganya lebih murah dijual di pasar modern dibanding pasar tradisional. ”Kalau mau beli banyak, jangan segan-segan membandingkan harga,” jelasnya.
Aris memprediksi harga akan kembali stabil awal Februari. ”Harapannya, sudah ada pasokan dari berbagai daerah,” tutupnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ Sugeng Purwanto mengatakan, saat ini produk holtikultura memang belum memasuki musim panen. Kondisi ini sangat mungkin memicu kenaikan harga.
”Memang belum masuk masa panen. Kalau daerah yang biasa tanam bawang merah di DIJ, ada di Bantul dan Kulonprogo. Sedangkan untuk cabai hampir merata seluruh DIJ, kecuali di Gunungkidul,” ucapnya.

Lilin dan Lampion Simbol Diterangi
Perayaan Imlek 2571 siap diselenggarakan di Klenteng Fuk Ling Miau Gondomanan, Jogja. Pengurus klenteng tampak sibuk menyiapkan berbagai ornamen kemarin (24/1).
Beberapa pengurus menata 16 altar. Sebagin pengurus terlihat menata lilin dan lampion. Ratusan lilin mulai ukuran kecil, sedang, dan besar dipasang berjajar menghiasi altar.
Lampion berwarna merah terlihat menghiasi atap kelenteng. Harum dupa semerbak.
Sejumlah warga keturunan Tionghoa berdatangan untuk beribadah. “Persiapan hampir seratus persen untuk menyambut tahun baru Imlek,” kata Ketua Pengurus Klenteng Gondomanan Ang Ping Siang alias Angling Wijaya.
Angling menjelaskan, sekitar tiga ratus lilin ditatasedemikian rupa menurut tradisi kepercayaam Tridharma yakni Konghucu, Buddhisme, dan Taoisme. Lilin-lilin itu dikirim oleh umat dengan berbagai ukuran tergantung kemampuan dan rezeki masing-masing. Setiap lilin dibubuhkan tinta emas.
Lilin yang dikirim tersebut diberi nama pribadi, keluarga, hingga perusahaan. “Kalau nyalakan lilin itu, permohonan supaya diterangi usahane, keselamatannya, jalannya. Lilin kan hidup terus supaya diterangi untuk kehidupan yang lebih baik ke depan,” ujarnya menjelaskan makna lilin dalam perayaan Imlek.
Lampion juga memiliki makna. Menurutnya, lampion yang menghiasi atap klenteng dimaksudkan agar hidup selama satu tahun ke depan diterangi. “Kan itu (lampion) simbol merah kebahagiaan. Semuanya kan warna merah, artinya kebahagiaan,” tambahnya.
Angling menyatakan, rencanakan sekitar 300 warga Tionghoa akan berdoa dan menyambut Imlek tepat pukul 00.00. Diperkirakan, pukul 19.00 nanti malam warga Tionghoa mulai berkumpul untuk berdoa. Usai kegiatan berdoa bersama sekitar pukul 23.00, ditampilkan barongsai dan menyalakan kembang api. “Setelah sudah masuk Imlek, bagi yang mau berdoa sampai pagi juga bisa,” ungkapnya.
Menurut Angling, tradisi bagi-bagi angpau saat Imlek akan dilaksanakan hari ini (25/1). Kegiatan ini melibatkan warga. “Iya, banyak. Biasanya pagi sudah padat di depan (klenteng), ingin mendapatkan angpau,” terangnya.
Dia memastikan kepolisian akan membantu menjaga keamanan dan kenyamanan selama mereka beribadah. “Harapan Imlek tahun ini supaya lebih baik dalam berusaha, bencana berkurang, dan kebhinekaan tunggal ika tetap terjaga,” harapnya.
Sebelumnya, beberapa ruangan di klenteng ini disterilkan petugas Jibom Gegana Sat Brimob Polda DIJ. Tujuannya untuk memberikan kepastian rasa aman kepada masyarakat yang sedang merayakan Imlek. “Hasilnya, aman. Tidak ada barang yang dicurigai,” kata Kanit Jibom Gegana Sat Brimob Polda DIJ Iptu Trijaka.
Ruangan yang diperiksa termasuk ruangan utama, transit, dan ruang ibadah. “Kita juga akan stand-by di sini,” imbuhnya. (/tor/wia/amd)

Breaking News