RADAR JOGJA – Tri Kirana Muslidatun, atau akrab disapa Ana Haryadi, membantah keterangan Gabriella. Bahkan dia mengancam akan menuntut balik tuduhan kepadanya.
“Oya? Luar biasa demi Allah ini fitnah. Saya itu ndak pernah tahu proyek itu lho tendernya saja saya ndak tahu satu pun,” tuturnya saat dikonfirmasi wartawan kemarin, (22/1).

Ana juga membantah bahwa perusahaan pemenang lelang kedua pada proyek rehabilitasi SAH itu merupakan bawaan darinya. Dia berdalih tidak pernah membawa perusahaan PT Jaya Semanggi itu pada proses lelang proyek SAH. “Enggak, enggak, saya nggak pernah membawa ataupun meminta. Nama PT itu (Jaya Semanggi) saya enggak tahu, kenalnya saya itu person,” kata Ana ketika dihubungi wartawan, kemarin (22/1).

Dia menjelaskan tidak pernah terlibat sama sekali dalam upaya proyek SAH tersebut. Termasuk beberapa proyek yang berada di DPUPKP. Apalagi harus mengenal dengan nama perusahaan yang disebut Gabriella. Pun satu persatu orang-orang dari perusahaan tersebut sama sekali tidak ada yang dikenalnya. “Ini fitnah, saya tidak kenal tidak tahu sama sekali. Saya hanya kenal pengusaha Jogja,” jelasnya.

Bahkan perusahaan menang nomor dua itu yang diinformasikan Gabriella dari terdakwa ES ingin membeli kemenangan dari Widoro Kandang juga dibantahnya .
Dia pun tidak pernah dikonfirmasi oleh penyidik KPK terkait perkara ini. Meski demikian, dia siap jika dibutuhkan untuk dimintai keterangan sebagai saksi. “Saya siap, karena saya tidak tahu menahu satupun tender-tendernya,” tambahnya.

Dalam kesempatan ini, dia berstatement yang ditujukan kepada semua oknum dalam perkara ini agar  tidak menyangkut pautkan politik dalam hal ini. Maksudnya yang memiliki tujuan lain untuk menjatuhkan dia bersama HS. Dia menyayangkan sekali jika kasus ini ditumpangi oleh kepentingan politik. “Saya enggak kenal dia (Gabriella) dan dia tidak kenal saya sama sekali. Saya akan tuntut dia (Gabriella) kalau nanti dia memfitnah,” tegasnya.

Sedang Kapolsek Umbulharjo Kompol Alaal Prasetyo belum bisa dikonfirmasi. Telepon, SMS maupun chatting via WhatsApp yang dikirmkan Radar Jogja belum dibalas hingga tadi malam.

JPU KPK, Wawan Yunarwanto mengatakan terkait penyebutan istri Wali Kota sebenarnya sudah ada pada BAP sebelumya. “Karena keterangan Ana (Gabriella) konsisten dengan yang di BAP,” katanya .

Dia menyebut, terkait dengan fee yang diberikan kepada Kapolsek Umbulharjo sebesar Rp 10 juta pun yang ditujukan untuk pengaturan lalu lintas juga masih perlu pendalaman lagi. “Apakah itu digunakan benar untuk oeprasional atau saweran kan kami enggak tahu,” jawabnya.

Kendati demikian, dia berharap kasus ini bisa menjadi pintu masuk membuka kasus perkara korupsi yang lain di DIJ. Tergantung dengan kecukupan bukti-bukti yang ada. “Kalau bukti cukup demi kebaikan (Jogja) apanya yang salah,” tuturnya. (wia/pra)

Breaking News