Radar Jogja – Panjangnya antrean truk hingga menggunungnya volume sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, belum bisa tertangani. Saat ini Pemprov DIJ terus berupaya menggaet investor untuk menangani masalah itu melalui mekanisme kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).
Mekanisme ini telah diterapkan sejak 2017 lalu. Namun hingga saat ini belum ada perusahaan yang tertarik menangani masalah sampah di TPST Piyungan. Padahal, TPST sendiri diprediksi bakal bertahan tahun depan. “Harapannya tahun ini bisa ada yang tertarik,” ungkap Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Kadarmanta Baskara Aji kemarin (9/1).
Dikatakan, mengularnya antrean karena segala jenis truk dapat melakukan pembuangan di TPST itu. “Misalnya kalau yang datang menggunakan dump truck (truck jungkit) pasti akan lebih cepat. Kalau sekarang kan semua jenis truk bisa masuk,” katanya.
Kondisi jalan yang becek saat musim penghujan juga membuat truk tak leluasa membuang muatannya. Sehingga tak jarang ada truk yang menurunkan sampah di bagian pinggir TPST. “Jadi proses untuk membawa sampah itu ke tengah juga menambah waktu,” tandasnya.
Untuk solusi sementara, Pemprov DIJ akan membangun jalan tambahan di TPST Piyungan yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIJ. Target pengerjaan tahun ini. “Kami akan bangun jalan sejajar dengan jalan sekarang, sehingga tidak saling mengganggu antara proses penurunan dan pengolahan. Walaupun kapasitas TPST akan berkurang,” jelasnya.
Aji menilai perlunya edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah, sehingga dapat mengurangi produksi sampah rumah tangga. Pemprov sendiri sedang mendorong Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPTG) untuk menciptakan inovasi pengolahan sampah untuk rumah tangga.
“Sedang mengupayakan alat yang bisa dipakai untuk memilah tapi juga bisa mengolah, alat apa yang bisa jadi solusi. Tentunya dengan harga yang terjangkau,” terang mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIJ ini.
Keberadaan bank sampah sendiri dianggapnya belum bisa menangani lonjakan sampah di TPST Piyungan. Sebab ada banyak jenis sampah yang belum bisa diolah. Salah satunya sampah rumah tangga yang sebagian besar tak bisa dimanfaatkan lagi.
“TPST idealnya satu kabupaten/kota memiliki satu. Tapi TPST Piyungan ini menampung sampah dari tiga kabupaten/kota. Jadi memang terlalu banyak,” jelas Aji. TPST Piyungan selama ini menampung sampah dari Kota Jogja, Kabupaten Sleman dan Bantul. (tor/laz)
.

Breaking News