Radar Jogja – Sanksi tegas menanti Supardjianto. Guru yang diduga melakukan pencabulan terhadap dua belas siswi sekolah dasar itu terancam diberhentikan sebagai aparatur sipil negera (ASN). Status dan fasilitasnya sebagai ASB dipastikan dicabut.
“Sesuai aturan dalam PP Nomor 11/2017 tentang Manajemen ASN jika ditetapkan tersangka maka diberlakukan pemberhentian sementara,” kata Kabid Pembinaan dan Kesejahteraan Pegawai Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan (BKPP) Sleman Sri Wahyuni kemarin (7/1).
Wahyuni mengutarakan, keputusan lebih lanjut terkait status pelaku sebagai ASN masih harus menunggu keputusan pengadilan yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap (inchrach). “Ini sedang proses dan laporan dari dinas sudah masuk dari Desember (2019),” terangnya.
Jika terbukti benar, Wahyuni mengakui, tindakan guru SD begeri di Seyegan ini tak terpuji. Terlebih, korbannya adalah siswinya sendiri. Apalagi, modus yang digunakan adalah pendidikan dan motivasi. Belum lagi, ada ancaman yang diberikan kepada para korban. ”Jelas menyalahi etika profesionalitas kerja. Saat ini statusnya masih proses diberhentikan sementara sebagai PNS,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Halim Sutono menjelaskan, pendampingan untuk korban dilakukan di unit pelaksana teknis (UPT). Selain itu, pendampingan juga dilakukan di puskesmas maupun kecamatan. “Karena terus terang saja, kami di dinas tidak menangani langsung. Sudah ada UPT yang menangani,” katanya.
Sejauh ini Disdik Sleman hanya melakukan langkah sosialisasi. Mereka berusaha mencegah guru melakukan tindakan yang berkaitan dengan norma asusila.
“Kami sampaikan ke teman guru dari PAUD sampai SMP agar hati-hati, jangan sampai melanggar undang-undang perlindungan anak, itu saja,” ujarnya. (har/amd/amd)

Breaking News