Radar Jogja – Sistem drainase perlu diperhatikan untuk mengantisipasi adanya genangan maupun banjir di musim penghujan saat ini. Mengingat sistem drainse mikro yang baik, akan memudahkan aliran air menuju sungai.
Pakar Hidrologi Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) Rachmad Jayadi menuturkan selama ini pembangunan sistem drainase selalu dikebut, namun tidak ada pemeliharaan. Tidak adanya pengerukan dari endapan yang ada, akan membuat masalah besar yang akan membuat air meluap saat musim penghujan .
Menurut Jayadi, pengerukan dan pembersihan hanya perlu dilakukan sebelum musim hujan secara rutin setiap tahunnya. “Namun selama ini tidak ada kegiatan seperti itu. Padahal itu sudah cukup untuk antisipasi banjir,” jelas Jayadi kemarin (3/1).
Kondisi drainase yang tidak maksimal, tambah Jayadi, serta curah hujan tinggi, banjir tidak bisa dihindarkan. Yang terbaik adalah dengan cara melakukan antisipasi yaitu pembersihan drainase.
Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan pemasanganan conblock biopori dan pembuatan sumur resapan. Meskipun hanya bersifat mengurangi potensi banjir, pemasangan conblock biopori akan mengurangi beban limpasan yang air yang datang.
Sementara untuk sumur resapan, memiliki sifat lebih baik dibandingkan conblock biopori, yang juga bertujuan untuk konservasi. Dalam jangka panjang, air akan meresap ke bawa yang menjadi cadangan air saat musim kemarau. “Sehingga mencegah penurunan air tanah yang berlebihan, bisa mengurangi kekeringan,” tambahnya.
Sementara itu, menghadapi cuaca ekstrem, Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) meminta masyarakat agar waspada terhadap lingkungannya. Terlebih bagi warga yang tinggal di area sungai. Mereka diminta selalu waspada dan siap mengantisipasi banjir lahar dingin.
Meskipun aliran banjir lahar dingin masih terkendali, masyarakat harus memperhatikan kebersihan drainasi. “Karena kondisi drainase yang baik akan membuat aliran air tetap lancar,” jelas SP.
SP menambahkan, untuk warga yang ingin menutup selokan dan saluran air harus melapor ke dinas teknis. Dalam hal ini adalah Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman agar bisa diarahkan sesuai prosedur. Agar tidak menghambat aliran air yang melewati selokan dan saluran air. “Tidak bisa sembarangan asal tutup,” tambahnya.

Menurut SP, saat ini jajarannya masih terus bekerja sesuai dengan tujuan pokok dan fungsi (tupoksi) dalam mengantisipasi dan mewaspadai bencana yang mungkin muncul sebagai dampak cuaca ekstrim. Baik berupa angin kencang, longsor maupun banjir.
Terlebih bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain itu juga para relawan yang telah dibina dan terlatih dalam menjalankan tugasnya. Inji agar bisa menangani kejadian dengan sigap. “Kami pastikan dana kebencanaan juga siap,” ucap SP.(eno/din)

Breaking News