RADAR JOGJA – Halimi Fajri, 19, mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) di Jogja mengalami luka lebam dan lecet di beberapa anggota tubuhnya akibat tindakan penganiayaan. Dia diduga menjadi korban salah tangkap oleh aparat kepolisian atas dugaan perampokan.
Dia menceritakan peristiwa naas yang menimpanya Rabu (25/12) lalu. Saat sedang makan di warung burjo, tepatnya di Jalan Melati Wetan, Gondokusuman, Kota Jogja, dia mendadak didatangi beberapa oknum yang mengaku sebagai anggota Polresta Jogja.
“Tanpa menunjukkan surat perintah dan penangkapan, saya langsung ditangkap. Kejadiannya sekitar jam 5 pagi,” jelasnya saat dihubungi Selasa (31/12).
Halimi lantas dibawa ke suatu tempat penginapan menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan, matanya ditutupi dan tangannya diikat dengan lakban. Sesampainya di lokasi, dia menyadari ada lima orang lain yang juga diduga menjadi pelaku tindak kejahatan. Di sana dia diinterogasi terkait peristiwa perampokan yang dia tak ketahui sama sekali.
“Diinterogasi tidak manusiawi. Mata dan telinga saya dipukul dengan tangan kosong dan benda tumpul. Pandangan jadi kabur dan telinga berdenging terus,” ucap mahasiswa semester satu ini. Namun, dia tetap menolak tuduhan itu.
Oknum itu baru berhenti memukul saat ada salah seorang pelaku yang juga berada di ruangan itu menjelaskan bahwa Halimi tidak terlibat. Saat diintogerasi, oknum itu juga merampas dompet beserta ATM miliknya. Mereka juga memaksa Halimi untuk memberitahukan nomor PIN ATM-nya.
Kemudian sekitar pukul 16.00, Halimi dibawa ke Polresta Jogjakarta bersama lima orang terduga pelaku tindak kejahatan. Esoknya (26/12) sekitar pukul 13.00 Halimi dan seorang rekannya baru dibolehkan pulang. Sedangkan handphone dan dompet beserta isinya disita oleh pihak kepolisian.
“Jumat (27/12) saya langsung visum di RSUD Jogja. Kemudian langsung mendatangi SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polda DIJ, melaporkan pidana penganiayaan dan perampasan kemerdekaan seseorang,” ucapanya.
Dia meminta agar Kapolda DIJ Irjen Pol Asep Suhendar dapat menindak oknum anggota Polresta Jogja itu sesuai dengan hukum yang berlaku.
Sementara itu, Kapolresta Jogja Kombes Pol Armaini belum bisa memastikan apabila ada anggotanya yang melakukan tindakan kekerasan tersebut. Dia mengaku masih menunggu hasil pemeriksaan dan laporan dari Polda DIJ.
Armaini mengaku siap menjalankan mekanisme hukum, apabila memang ada anak buahnya yang terbukti menyalahi prosedur. “Kami tunggu laporan dari Polda dulu,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat berhak untuk melakukan pengaduan apabila mengalami dan melihat adanya kesalahan prosedur yang dilakukan anggota Polri. Apabila terbukti terjadi kesalahan, perwira menjengah dengan tiga melati ini berjanji akan menindak tegas anggotanya.
“Apabila ada penggunaan kekerasan yang eksesif dalam penyidikan maka akan diberi punishment. Kami menyadari terkadang ada kelalaian petugas di luar kewenangan. Misal karena faktor emosional maka terjadilah hal itu. Kami tidak membiarkan, kalau benar terjadi itu jadi koreksi kami agar lebih baik ke depan,” tuturnya. (cr16/laz)

Breaking News