Kasus kekerasan jalanan atau klitih di DIJ masih jadi pekerjaan rumah bersama. Perhatian tak hanya untuk para pelaku yang rata-rata masih di bawah umur. Korbannya pun perlu diperhatikan. Muhammad Angga, 18, salah satunya.

HERU PRATOMO, Jogja, Radar Jogja

Rumah yang berada di bantaran Kali Gajah Wong, di RT 53 RW 6 Balirejo, Muja Muju, Umbulharjo, penuh dengan tumpukan kardus berisi sarung. “Titipan dari juragan untuk diberi label dan harga,” kata Suparman sambil mempersilakan Radar Jogja masuk ke rumahnya, kemarin (28/12).
Suparman adalah ayah dari Muhammad Angga. Korban klitih di Jalan Ireda, Gondomanan, Kota Jogja, 1 Desember lalu. Angga, siswa SMA Ma’arif jadi korban pembacokan oleh kawanan pelajar SMP, Minggu (1/12) dini hari sekitar pukul 02.30.
Akibat sabetan dengan senjata tajam itu, pergelangan tangan kiri Angga robek. Dan mengenai urat otot empat jarinya. Pagi itu juga Angga dioperasi di RSUP Dr Sardjito untuk menyambung urat ototnya. “Alhamdullilah masih bisa disambung, tapi ya sampai sekarang masih di-gips,” ujar Ngadiyem, ibunda Angga.
Biaya operasi penyambungan otot tangan Angga itu menghabiskan biaya hampir Rp 14 juta. Keluarga Suparman, yang termasuk pemegang kartu menuju sejahtera (KMS) Kota Jogja, harus membiayai sendiri. Ini karena kasus kriminalitas tidak ditanggung BPJS Kesehatan. “Ya pinjam uang ke juragan,” kata Ngadiyem yang keseharianya sebagai buruh lepas itu.
Dia mengaku sempat mencoba mengurus keringanan biaya karena tak ditanggung BPJS Kesehatan. Termasuk dengan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) Kota Jogja. Tapi, itu juga ditolak dengan alasan Jamkesda diperuntukkan warga luar kota.
Ngadiyem mengaku, setelah kejadian 1 Desember lalu sempat didatangi oleh keluarga para pelaku. Mereka menjanjikan akan memberikan bantuan uang untuk pengobatan Angga. Tapi, hingga kini janji itu tak terealisasi. “Sepeser pun belum ada, kemarin sempat jenguk bawa buah,” katanya.
Dengan kondisi keluarganya yang kurang, untuk pengobatan Angga pun dilakukan sekadarnya. Apalagi Suparman kini juga tak lagi bisa bekerja karena didiagnosa dokter mengalami penyumbatan darah yang membuatnya tak leluasa bergerak. “Harusnya 11 Desember lalu kontrol ke RS Sardjito, tapi karena belum ada biaya, dibawa ke Puskesmas,” ungkap Ngadiyem.
Pilihan kontrol ke puskesmas karena tidak perlu membayar. Tapi, penangannya juga kurang maksimal. Karena Puskesmas hanya mampu membersihkan luka.
Ngadiyem mengaku sudah ikhlas dengan kejadian yang menimpa putera ketiganya itu. Tapi dia meminta agar kasus klitih ini tetap diselesaikan melalui jalur hukum. Dia mengaku sudah beberapa kali dimintai keterangan polisi. “Indonesia kan negara hukum, ya selesaikan secara hukum,” tegasnya.
Selain itu dia juga berharap puteranya menjadi korban terakhir klitih di DIJ. Perhatian khusus, anaknya kini tak diperbolehkan lagi nongkrong hingga dini hari. “Kapoklah sudah seperti ini,” katanya.
Saat ini kelompok pelajar yang membacok Angga sudah berhasil ditangkap jajaran Polsek Umbulharjo. Dua di antaranya ditahan. Mereka adalah pelajar sebuah SMP swasta di DIJ. Mereka tergabung dalam geng pelajar yang memiliki kebiasaan untuk mencari pengakuan dengan melakukan aksi kejahatan.
Kapolsek Umbulharjo Kompol Alal Prasetyo mengimbau kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah pada tengah malam. “Kalau tidak penting, tidak usah keluar rumah. Juga jangan mau kalau diberhentikan kendaraannya. Pihak sekolah juga diharapakan bisa mengawasi anak didiknya,” katanya saat pengungapan kasus ini 8 Desember lalu. (laz)

Boks