Anak-anak muda di Desa Tlogoguwo, Kaligesing, Purworejo, memperjuangkan peningkatan kesejahteraan petani di desanya. Melalui kopi, mereka berusaha menyadarkan masyarakat untuk lebih memperhatikan tanaman dan merawatnya dengan baik.

BUDI AGUNG, Purworejo, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Topografi Kecamatan Kaligesing menjadi modal bagi kawasan itu untuk memiliki beberapa tanaman unggulan yang jarang ditemukan di tempat lain. Dan melambungnya pamor kopi, menjadi berkah bagi masyarakat untuk mendulang pendapatan.
Hanya kesadaran masyarakat belum terlalu tinggi. Mereka tidak melakukan perawatan intensif, sehingga produktivitas kopi menurun. Selama ini pun penghargaan atau nilai jual yang ada relatif mengikuti pasaran umum.
Prihatin dengan kondisi masyarakat yang mensia-siakan kopi, generasi muda mencoba memberikan sentuhan. Tercatat setahun terakhir langkah itu dilakukan dan berhasil menjaring 15 petani kopi dari total 29 orang.
Bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk menyakinkan orang agar mengelola kopi dan menjual kepada anak-anak muda itu. Apalagi kopi yang belakangan disebut dengan Kopi Kikis barulah awal, belum terlihat perjalanannya.
Pesimisme warga tidak terlalu diabaikan oleh enam pemuda yang dipimpin Widji Hanarko ini. Mereka tetap melangkah dan meyakini jika kopi yang mereka buat dan kemas akan berhasil terjual ke lapangan. Optimisme itu terbangun karena dari Kaligesing sendiri sudah bermunculan berbagai merk kopi yang dihasilkan.
“Biasanya petani menjual kopi itu seharnya Rp 16.000 saja ke pasar. Sementara kami berani membeli Rp 20.000 per kilogramnya yang sudah kupasan,” kata lelaki yang biasa disapa Widji ini Senin (23/12).
Ia mengaku dari enam rekannya, tercatat empat orang merupakan anak dari pemilik lahan kopi. Secara bertahap mereka melakukan pendekatan hingga berhasil menghimpun sebanyak 15 petani.
Memang belum banyak yang dihasilkan dari pengelolaan kopi itu. Kebetulan proses pengelolaan juga dilakukan pasca panen. “Kami optimistis Kopi Kikis yang kami kembangkan ini akan berhasil. Karena sampai saat ini pun kami sudah melakukan penjualan, khususnya dengan online,” tutur Widji.
Belum memiliki kedai atau tempat display sendiri tidak membuat Widji dan teman-temannya risau. Karena dari produksi yang ada, semuanya sudah terjual. Sistem online yang dijalankan memberikan banyak berkah.
“Melihat potensi yang ada, kami yakin kopi dari Tlogoguwo ini akan berhasil mencuri perhatian. Apalagi kami mengembangkannya dengan sistem organik yang disukai para pecinta kopi,” tambahnya.
Meskipun masih terbatas, semangat Widji dan teman-temannya tidak kendur. Ada beberapa kesempatan yang dimanfaatkan untuk unjuk cita rasa kopi olahannya. Setidaknya dalam beberapa kesempatan event mereka sudah memajang produknya.
“Sisa dari petani yang belum mau bergabung ini akan menjadi tantangan bagi kami. Karena untuk meningkatkan nilai jual kopi, produksi kita ini ya harus dimulai dari kita juga,” tambah Widji. (laz)

Boks