BANTUL – Cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Gunungkidul. Pantai selatan Kabupaten Bantul juga mengalami hal serupa, sehingga para nelayan memilih alih profesi. Sebagian ada yang membantu istrinya berjualan.

“Tidak memungkinkan untuk melaut,” jelas Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mina Bahari 45 Pantai Depok Tarmanto Selasa(29/5).

Berdasar pengalaman, Tarmanto mengungkapkan, cuaca ekstrem terjadi setiap tahun. Biasanya, mulai April hingga Juli. Selama empat bulan ini, kondisi angin serta gelombang laut cukup tinggi, sehingga membayakan.

“Kalau mau melaut, nelayan harus melihat kondisi,” ucapnya.

Tarmanto mengakui sebagian nelayan ada yang nekat melaut. Kendati begitu, intensitas melaut ini tak seberapa dibanding hari-hari biasa. Paling sering, maksimal hanya seminggu dua kali. Praktis cuaca ekstrem ini sangat berpengaruh terhadap pasokan air segar di Pantai Depok.

“Biasanya sehari bisa 7 sampai 9 ton. Sekarang hanya 10 sampai 20 kilogram,” sebutnya.

Guna menutupi kebutuhan air segar, pemilik warung kuliner di Pantai Depok mendatangkan dari kawasan pantai utara. Termasuk saat libur Lebaran nanti. Tarmanto menyebut kebutuhan ikan segar bisa meningkat hingga seratus persen.

“Sehari mencapai tiga ton,” katanya.

Mujiyanto, 37, seorang nelayan di Pantai Depok mengaku masih melaut. Tapi hanya sebatas di pinggiran.

“Satu tarikan langsung pulang,” tuturnya.

Muji mengatakan, hampir semua jenis ikan tersedia. Tapi tidak semua bisa ditangkap. Seperti cumi-cumi. Itu karena laut Depok tidak terlalu dalam.

“Untuk ikan ukuran gede seprti kerapu harus mencapai lepas pantai. Kira-kira satu mil dari daratan. Itu pun dengan memancing,” tutur Muji. (cr2/zam/mg1)

Bantul