Sebagai bentuk ungkapan syukur atas keberadaan telaga di wilayahnya, warga Padukuhan XII Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan Bantul Miggu (6/5) meggelar Festival Telaga Semar Seto. Festival yang digelar untuk kedua kalinya ini diisi berbagai kegiatan mulai lomba tumpeng jajanan tradisional, peresmian Pasar Srawung, pertunjukan tari dan kirab Bergodo. “Telaga baru ini kita syukuri dan menjadi harapan baru bagi masyarakat Sidorejo. Semoga nanti bisa menjadi destinasi wisata baru yang indah,” terang Ketua Panitia Wishnu Susena.

Untuk memeriahkan destinasi baru itu, setiap hari Minggu pagi di kawasan Telaga Semar Seto ini juga dibuka Pasar Srawung. Pasar ini sudah dibuka sejak 4 Februari silam. Pasar ini khusus menyidakan makanan tradisional seperti nasi liwet, trancam, jamu semar seto dan lain sebagainya. Kosep yang ingin dibangun ada tempo dulu. Bagi masyarakat yang ingin reuni dengan makanan khas tempo dulu, maka Pasar Srawung di kawasan Telaga Semar Seto ini cocok untuk dikunjungi. Selain menikmati kuliner tradisional pengunjung juga bisa menikmati indahnya Telaga Semar Seto.”Pasar ini untuk belajar dan mempersiapkan diri jika nanti Telag Semar Seto jadi destinasi wisata, kami sudah terbiasa jualan makanan tradisional,” terangnya.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyambut baik kerativitas warga ini. Menurutnya acara-acara semacam ini bisa menjadi wadah untuk melestarikan kebudayaan. “Pemkab bangga warga bisa merevitalisasi Telaga Semar Seto menjadi destinasi wisata dan menginisiasi Pasar Srawung ini,” tegasnya.

Halim berpesan agar kegiatan ini tidak hanya sebetas seremoni dan event rutin tahunan saja namun benar benar menjadi sarana untuk mempertahankan budaya serta mampu membuat warga lebih guyub rukun dan harmonis lagi.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta secara simbolis memukul bende sebagai tanda peresmian Pasar Srawung sekaligus sebagai tanda kirab bergodo dimulai. Kiorab ini diikuti oleh empat bergodo prajurit yang berasal dari bergodo rakyat di Desa Ngestiharjo.

Telaga Semar Seto sendiri merupakan nama baru dari Rawa Kalibayem yang dulu merupakan situs bersejarah yang sudah ada sejak Sultan Hamengkubuwono I. Dalam sejarahnya, kawasan ini dibangun sebagai sarana petirahan Pesanggrahan Sonopakis. Tahun 1830-1929 kawasan ini dialihfungsikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai sarana irigasi untuk persawahan dan perkebunan tebu milik pengusaha Belanda seperti di Kelurahan Ngestiharjo, Tirtonirmolo, Tamantirto dan Padokan. (kus/mg1)

Breaking News