WAKIL rakyat di DPRD Kota Jogja tak mau berpangku tangan melihat masalah sosial akibat pembangunan infrastruktur. Dewan pun berharap, pembngunan kawasan perkotaan bisa menjadi solusi persoalan di masyarakat. Bukan malah menambah masalah.

Keinginan wakil rakyat itu muncul saat menerima audiensi warga RT 01, Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman di kantor DPRD Kota Jogja Selasa (24/4). Puluhan warga yang menolak pembangunan apartemen milik salah satu BUMN di Terban mengadu ke DPRD. Hadir dalam audiensi Wakil Ketua DPRD Kota Jogja Ririk Banowati, Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja Nasrul Khoiri, anggota Fraksi Gerindra DPRD Kota Jogja Novi Semendawai, dan Anggota Fraksi Partai Golkar Sugianto. Serta beberapa pejabat Pemkot Jogja.

Nasrul Khoiri mengakui, pembangunan vertikal tak bisa dihindari. Namun itu harus ditindaklanjuti dengan solusi agar tak menimbulkan permasalahan horizontal bagi masyarakat. “Jangan sampai menjadi masalah baru yang kemudian akhirnya menimbulkan trauma di masyarakat,” ingatnya.

Nasrul menegaskan, pemerintah tak boleh lepas tangan menghadapi persoalan itu. Apalagi, hal tersebut menyangkut kenyamanan warga di lingkungan tempat tinggal. “Kami akan running dengan menggelar rapat berkelanjutan. Nanti masyarakat bisa utus perwakilan untuk ikut rapat dengan kami,” janjinya.

Soal pembangunan apartemen di Terban, Nasrul meminta adanya fakta-fakta objektif. Seperti aspek legal formal dari perizinan apartemen. “Tadi kami koordinasi dengan dinas perizinan. Ternyata memang belum jalan. Jadi, kami masih bisa nututi,” tandasnya.

Masalah pembangunan apartemen ini sebenarnya terjadi sejak 2015 silam. Kala itu warga menolak keberadaan apartemen di wilayah mereka. Proses sosialisasi dan perizinan apartemen itu pun dihentikan. Hingga dilakukan sidang analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) hingga akhir Maret lalu. “Itu dengan nama berbeda. Awalnya Taman Melati Sardjito. Sekarang menjadi Dhika Universe Apartemen,” keluh Sekretaris Warga Penolak Apartemen Tulus W.

Masalah yang lebih pelik, lanjut dia, munculnya perpecahan masyarakat. Para penolak dan pendukung pembangunan apartemen tidak saling sapa. Padahal, mereka bertetangga. “Itu belum dampak lingkungan,” ungkap Tulus.

Di RT 01, RW 02, Terban, sebenarnya ada mata air yang dimanfaatkan sebagai penyokong air minum warga. Sarana itu, menurut Tulus, terancam hilang dengan adanya sumur dalam yang dibangun pihak apartemen. Sumur tersebut dibor dengan kedalaman mencapai 200 meter “Beton cornya pasti juga berpengaruh terhadap mata air,” katanya. (adv/yog/mg1)

Breaking News