JOGJA – Sidang sengketa tanah kadipaten atau Pakualamanaat Grond (PAG) yang menjadi lokasi bandara Kulonprogo antara penggugat Suwarsi dkk melawan KGPAA Paku Alam X memasuki tahap pembuktian.

Setelah dua minggu diskors majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jogja, hari ini Kamis (15/3) sidang dilanjutkan. Agendanya tunggal. Pemeriksaan saksi-saksi dari pihak penggugat. “Kami siapkan sepuluh orang saksi,” ucap Prihananto SH selaku kuasa hukum Suwarsi dkk Rabu (14/3).

Soal nama-nama saksi yang dihadirkan, Prihananto enggan membocorkannya. Dia memilih merahasikannya. “Tunggu saja besok. Pasti seru,” ungkap advokat yang tinggal di Surakarta ini.

Suwarsi dkk sebagai klien Prihananto. Dalam gugatannya, mereka mengaku sebagai ahli waris Susuhunan Paku Buwono X dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Emas. Mereka mengklaim sebagai keturunan dari GKR Pembayun.

Itu dibuktikan dengan surat nazab nomor 127/D/III dari Raad Igama Surakarta atau Pengadilan Agama Surakarta 12 September 1943. Nazab itu menerangkan Pembayun alias Waluyo alias Sekar Kedhaton putri Paku Buwono X atau Malikoel Koesno dengan GKR Emas menikah dengan RM Wugu Harjo Sutirto dari Kadipaten Madura. Dari perkawinan itu melahirkan Suwarsi.

Klaim penggugat rupanya mengusik keturunan Mr RAA M. Sis Tjakraningrat dari Bangkalan, Madura. Sebab, selama ini informasi yang diketahui di lingkungan Keraton Surakarta dan Keraton Jogja, Pembayun tidak menikah dengan Wugu. Namun dengan Sis Tjakraningrat yang pernah menjabat bupati Bangkalan, Madura.

“Para penggugat itu merupakan keturunan abal-abal. Kekancingan yang mereka kantongi palsu,” tuding BRM Muhammad Munier Tjakraningrat.

Tak terima silsilah keluarganya diselewengkan, Munier telah mengambil langkah hukum. Dia mengadukan kasus itu ke Bareskrim Mabes Polri. Bersama kerabatnya, Munier juga telah mengantongi kekancingan (surat keputusan) silsilah dari Keraton Jogja.

Maklum, ibunda Pembayun yakni GKR Emas adalah putri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII. Nama mudanya adalah Gusti Raden Ajeng (GRAj) Moersoedarinah yang terlahir dari salah satu permaisuri HB VII, GKR Kencana.

Setelah mendapatkan kekancingan dari Keraton Jogja, Munier bersama tiga saudaranya juga mendapatkan surat keterangan dari Keraton Surakarta. Surat keterangan itu ditandatangani Pengageng Putra Sentana GPH Puspohadikusumo dan Pengageng Parampara Nata KGPH Hadiprabowo.

Isinya menerangkan, BRAy Koes Siti Marlia, BRAy Koes Sistiyah Siti Mariana, BRM Muhammad Munier Tjakraningrat, dan BRM Mochamad Malikul Adil Tjakraningrat merupakan keturunan dari perkawinan GKR Pembayun (GRAy Koestijah) putri Paku Buwono X dengan Mr RAA M. Sis Tjakraningrat.

Surat keterangan itu diserahkan pada Kamis malam (8/3) di Sasana Narendra Keraton Surakarta. Penyerahan dilakukan langsung oleh Susuhunan Paku Buwono XIII didampingi permaisuri GKR Paku Buwono.

Wartawan Radar Jogja berkesempatan ikut menghadiri acara yang diikuti tak kurang 30 orang. Selain keturunan Tjakraningrat, juga datang kerabat dari Keraton Jogja RM Gowindho, keturunan dari GPH Mangkukusumo, kakak GKR Emas yang sama-sama keturunan HB VII. “Ini momen penting dan spesial bagi keluarga kami,” kata Munier saat diberikan kesempatan bicara.

Sedangkan KGPH Hadiprabowo menyebut pertemuan itu ibarat ngumpulke balung pisah atau mengumpulkan saudara yang terpisah beberapa lama. Jauh sebelum ada sengketa tanah calon bandara Kulonprogo itu, silaturahmi antara keluarga Pembayun dengan Keraton Surakarta nyaris terputus. Tidak banyak komunikasi terbangun di antara para keturunan Paku Buwono X tersebut.

“Adanya gugatan di pengadilan itu melahirkan hikmah sehingga kami semua bisa dipertemukan kembali,” ujar Gusti Hadi, sapaan akrabnya. Dia ingin setelah adanya surat keterangan itu, kontroversi keturunan Pembayun dapat diakhiri. Pertemuan dengan raja Surakarta itu berjalan kurang lebih satu jam. (kus/ila/mg1)

Breaking News