Selama Musim Pancaroba, Hindarkan Genangan Air

JOGJA – Hujan masih terus mengguyur wilayah DIJ dalam seminggu terakhir ini. Genangan air yang terjadi di beberapa sudut perkotaan patut diwaspadai.

Bisa jadi genangan air tersebut menjadi tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti. Nyamuk jenis inilah inang pembawa virus dengue penyebab penyakit mematikan demam berdarah dengue (DBD).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Prof Dr dr Sutaryo mengatakan, siklus penyebaran penyakit DBD akibat infeksi virus dengue selalu terjadi pada musim penghujan

. Terutama antara Oktober – April. Namun puncak penyebarannya justru saat pancaroba seperti sekarang. “Tiap tahun siklusnya sama. Puncaknya ya bulan-bulan ini sampai Februari,” ungkapnya kemarin (14/11)

“Gejalanya selalu sama, pasti diawali demam. Hari keempat (penderita, Red) harus diperiksa medis dengan cek darah. Untuk memastikan,” sambung Sutaryo.

Dikatakan, jenis DBD yang paling banyak menyebar di Jogjakarta dan Indonesia pada umumnya adalah dengue tipe 3. Tipe lain juga banyak menjangkiti masyarakat. Namun virus dengur tipe 3 yang paling berat. Sedangkan inang pembawa virusnya juga sama, yakni nyamuk aedes aegypti.

Untuk mencegah penularan DBD, kata Sutaryo, tidak ada kata lain selain kesadaran untuk membiasakan hidup bersih dan sehat. Serta menjaga kebersihan lingkungan. Hal ini guna meminimalisasi penyebaran jentik nyamuk aedes aegypti.

Sementara itu, ahli serangga Eliminate Dengue Project (EDP) Jogjakarta Warsito Tantowijoyo mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap lingkungan tempat tinggal masing-masing. Menurutnya, pada musim penghujan populasi nyamuk bisa meningkat dua kali lipat. Termasuk aedes aegypti. Dijelaskan, pada musim kemarau telur nyamuk ini mampu bertahan hingga enam bulan. Telur

baru menetas saat masuk musim penghujan.
“Inilah yang menyebabkan populasinya meningkat. Semua menetas saat memasuki musim penghujan,” paparnya.

Terkait pencegahannya, program EDP masih konsisten dengan gerakan penyebaran jentik dan nyamuk ber-wolbachia. ” Ini sangat efektif memotong siklus penyebab demam berdarah,” katanya.
Wolbachia merupakan bakteri alami yang ada di dalam tubuh serangga, termasuk nyamuk. Dari penelitian EDP, bakteri tersebut mampu menekan replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Dengan begitu, kemampuan nyamuk dalam menularkan virus dengue dari satu orang ke orang lain menurun.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembajun Setyaningastutie mengimbau masyarakat selalu menjaga pola makanan sehat dan diimbangi istirahat yang cukup. Untuk mencegah penularan DBD, warga DIJ disarankan menanam tanaman antinyamuk. Seperti mumba, lavender, rosemary, geranium, zodia, atau serai wangi. “Itu bisa ditanam di pot halaman rumah,” ucapnya.

Langkah antisipasi penyebaran DBD juga telah dilakukan dengan penyediaan reagen untuk disebar di lima kabupaten/kota se-DIJ. Reagen adalah zat yang digunakan dalam suatu reaksi kimia. Sebagai larutan pereaksi atas suatu proses reaksi kimia. Dalam hal ini reagen untuk pencegahan penyebaran virus DBD.
Adapun pengadaan reagen tahun ini dialokasikan sekitar Rp 800 juta. “Tapi yang paling penting adalah peran masyarakat untuk mencegah penyebaran DBD. Reagen hanya untuk pemeriksaan,” ujar Pembajun.

Di bagian lain, Koordinator Stasiun Klimatologi Radar Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jogjakarta Joko Budiyono menjelaskan, peningkatan curah hujan terpantau sejak awal November ini. Rata-rata curah hujan per hari mencapai 30- 40 mm. Angka ini menunjukkan kategori curah hujan sedang. “Prediksi cuaca tidak menentu dari pagi hingga malam. Siang hingga sore berpotensi hujan sedang hingga lebat. Di beberapa titik bisa disertai angin kencang,” paparnya.

Melihat kondisi tersebut, lanjut Joko, tidak menutup kemungkinan dalam beberapa hari ke depan bisa terjadi hujan lebat dengan durasi singkat, namun disertai petir dan angin kencang.(dya/yog)

Breaking News