Sisihkan 250 Pelajar Lain, Berharap Jadi Pasukan Delapan

Menjadi bagian Pasukan Delapan dan menjadi pengerek bendera Merah Putih dalam upacara HUT ke-72 Republik Indonesia di Istana Negara Jakarta merupakan harapan Aldian Fahrialam. Siswa kelas 10 SMAN 1 Jogja ini menjadi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) mewakili DIJ.
HERU PRATOMO, Jogja
DISIPLIN khas militer sangat jelas dalam perilaku Dian, sapaan Aldian Fahrialam. Itu terlihat saat dia berkunjung ke kantor Balai Kota Jogja beberapa waktu lalu. Dian yang datang bersama tujuh rekan Paskibraka asal Kota Jogja lainnya, baru mau duduk saat dipersilakan. Termasuk saat akan menjawab pertanyaan dari wartawan, Dian selalu mengawali dengan kalimat “mohon izin menjawab.”

Dibanding rekannya yang lain, Dian memang menjadi perhatian. Selain karena menjadi wakil DIJ di tingkat nasional, secara fisik Dian memang tampak berbeda.

Siswa kelas 10 SMAN 1 Jogja itu terlihat tinggi bagi anak seumurannya. Dian memiliki tinggi 178 sentimeter dan berat 60 kilogram. Syarat menjadi Paskibraka tingkat nasional memang tergolong berat, minimal harus memiliki tinggi 175 sentimeter untuk pria dan 165 sentimeter untuk perempuan.

“Untuk perempuan kami memang kesulitan, tapi pria sejak awal kami jagokan Dian ini. Akhirnya dia bisa menjadi wakil DIJ ke tingkat nasional,” jelasKepala Seksi Pembinaan Pemuda Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Jogja Husni Eko Prabowo.
Tak sendiri, Dian bersamaAfifah Salma Viadani Anandaakan menjadi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) mewakili DIJ di Istana Negara.

Keberhasilan Dian menembus Paskibraka hingga ke tingkat nasional tersebut sekaligus memperpanjang tradisi wakil Kota Jogja yang selalu lolos hingga Jakarta. Sejak 2011 lalu, paling tidak ada satu Paskibraka asal Jogja yang menjadi Paskibraka di Istana Negara.

Bahkan pada 2014 dan 2015, dua siswa dari Kota Jogja berhasil mewakili DIJ. Keberhasilan tersebut bukan perkara yang mudah. Dian berhasil maju setelah menyisihkan 250 pelajar Kota Jogja yang ikut seleksi menjadi Paskibraka.

“Seleksi sejak dari tonti sekolah, kemudian tingkat kota, provinsi, dan akhirnya menjadi wakil DIJ,” ujar Dian.
Pria kelahiran Gunungkidul, 11 April 2001 itu mengisahkan perjuangan bisa tembus menjadi Paskibraka nasional harus melalui perjuangan yang berat. Termasuk harus mengikuti pembekalan fisik, mulai dari lari, tes Samapta, hingga shuttle run.
“Selan itu juga diberi pembekalan pengetahuan terkait bendera, baki maupun tentang Keistimewaan DIJ,” jelasnya.

Hal itu juga dilanjutkan dengan kunjungan ke museum serta menemui Paskibraka di empat kabupaten dan satu Kota di DIJ.”Hasil kunjungan kemudian dibuat laporan yang harus dipresentasikan ke pelatih,” jelas dia.

Bagi Dian, baris berbaris merupakan kesukaannya sejak kecil. Saat diterima di SMA favorit di Kota Jogja juga dimanfaatkanya untuk ikut dalam barisan tonti.

Meski baris-berbaris identik dengan militer, menjadi tentara atau polisi bukan merupakan cita-cita Dian. “Cita-citanya menjadi dokter,” ujarnya.

Saat ini putra sulung pasangan Heru Wibowo dan Himawati itu sudah berada di Cibubur, Jakarta Timur untuk mengikuti karantina Paskibraka bersama puluhan siswa dari berbagai provinsi di Indonesia.

Aktivitas karantina di Jakarta yang berlangsung hingga sebulan tentu saja akan mengganggu sekolahnya. Tapi, Dian emngaku tidak khawatir. Kunci yang diyakininya adalah fokus di mana dia berada.

“Kalau di sekolah fokus sekolah, di Paskibraka sekarang ya fokus di Paskibraka,” terangnya.

Setelah menyelesaikan karantina Paskibraka di Jakarta, Dian mengaku, tidak memiliki harapan yang muluk. “Harapannya setelah pendidikan nasional, bisa lebih baik lagi, lebih disiplin,” jawabnya. (ila/ong)

Boks