RADARJOGJA.CO.ID – Jumat (4/8) lalu petugas gabungan Polda DIJ dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ berhasil mengamankan lima belas ekor satwa liar dilindungi dari rumah Widodo di Desa Potorono, Banguntapan, Bantul. Dari rumah tersangka perdagangan satwa langka tersebut kelima belas ekor binatang liar kemudian diamankan untuk diselamatkan di Lembaga Konservasi Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogjakarta yang berada di Dusun Paingan, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo. Sayangnya, dua ekor kucing hutan mati mengenaskan karena mengalami dehidrasi akut.

Kepala Seksi Wilayah II Surabaya Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum LHK) Jawa Bali Nusa Tenggara (Jabalnusra) Tri Saksono mengungkapkan, kondisi kesehatan dua ekor kucing hutan tesebut buruk selama diperjualbelikan. “Seekor berumur dua bulan. Satu lagi masih anakan usia kurang dari seminggu,” ungkapnya kemarin (8/8).

Satwa liar lain sebagai barang bukti kasus pelanggaran UU No 5/1990 tenang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Eskosistemnya masih dalam penanganan petugas WRC untuk direhabilitasi. Di antaranya, kucing hutan (Felis Bengalensis), jelarang (Ratufa Bicolor), serta masing-masing satu ekor trenggiling (Manis Javanica), dan burung elang alap-alap (Accipitridae), landak (Hystrix Sp), dan garangan Jawa (Herpestes Javanicus), serta binturong.

Khusus binturong mendapat perawatan ekstra karena mengalami pengelupasan kulit wajah dan bengkak di area mata.

Elang alap-alap juga diperlakukan khusus setelah terdeteksi mengalami patah sayap karena tak bisa terbang normal. “Kami lakukan anastesi dan rontgen untuk memastikan kemungkinan adanya infeksi di dalam tubuhnya,” katanya.

Terungkapnya kasus jual beli satwa liar dilindungi tersebut menjadi bukti betapa wilayah DIJ menjadi surganya transaksi barang ilegal selain narkoba. Aparat pun dibuat repot dengan model transaksi yang memanfaatkan media sosial. Begitu juga cara pembayarannya dengan transfer rekening bank. Sebagian besar satwa yang didatangkan dari daerah luar DIJ menggunakan jasa angkutan barang atau ekspedisi makin menyulitkan petugas melakukan operasi tangkap tangan.

Koordinator Polisi Kehutanan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ Purwanto mengakui, transaksi satwa liar di DIJ cukup tinggi. Setidaknya hal itu berdasarkan bukti transaksi dalam ponsel tersangka dan kasus serupa yang telah terungkap. Termasuk kasus upaya penyelundupan satwa langka di Bandara Adisutjipto belum lama ini.

Purwanto menduga, tingginya kasus jual beli satwa liar juga disebabkan minimnya vonis bagi pelaku yang terbukti melanggar UU No 5 /1990. Ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta, menurut dia, terlalu ringan. “Dalam praktiknya kadang ada yang hanya divonis setahun. Itu jelas tidak bisa memberi efek jera,” sesalnya.

Kondisi itu pula yang menyebabkan praktik jual beli satwa liar dilakukan oleh muka-muka lama. Meski pernah dihukum badan, mereka tak takut mengulanginya lagi. Seperti halnya Widodo.
Menurut Purwanto, untuk memutus rantai jual beli satwa dilindungi perlu kejelian petugas jasa pengiriman paket. Tersangka biasanya memanfaatkan kelengahan dan ketidaktelitian petugas jasa paket.

Sebagaimana kasus yang terungkap di Bantul, satwa liar tersebut tak disembunyikan dalam waktu lama di rumah tersangka. Tapi hanya transit sementara untuk selanjutnya dikirim ke pelanggan. “Tersangka (Widodo, Red) adalah pelaku lama. Pemasoknya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat,” bebernya.(tom/yog/ong)

Breaking News