Sleman –Kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Jogjakar-ta kemarin (1/8) seolah menjadi jawaban atas kekhawatiran seba-gian pihak yang meragukan keha-lalan vaksin Measless Rubella (MR). Presiden menegaskan, bahan baku vaksin halal dan tidak mengandu-ng minyak babi seperti isu yang sempat beredar belakangan ini. Karena itu Jokowi meminta semua pihak mendukung gerakan nasi-onal imunisasi MR demi mencegah anak dari ancaman campak dan virus Rubella.

Dikatakan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mem-fatwakan bahwa imunisasi lebih besar manfaatnya dibanding mudaratnya

“Nanti akan dijelaskan secara gamblang oleh menteri agama, menteri pendidikan, dan men-teri kesehatan apakah MR itu,” paparnya di sela pencanangan nasional kampanye dan intro-duksi imuniasi campak dan Rubella di Madrasah Tsana wiyah Negeri (MTsN) 10 Sleman.

Bahkan, untuk memastikan vaksin tersebut aman dan tidak memiliki efek samping, Jokowi memanggil dua siswa yang telah divaksin untuk naik ke panggung. Keduanya, Ichsanudin Nur Rosyid dan Naraya Nindiah Hastiwi, ditanyai efeknya setelah disun-tik. Meski sempat ragu dan malu- malu, Naraya mengaku tidak merasakan sakit setelah disun-tik di bagian lengan kirinya.

“Apakah setelah disuntik mera-sakan pusing, mual, dan muntah- muntah?” tanya Jokowi. Dengan mantap bocah perempuan itu menjawab tidak merasakan efek apapun.

“Imunisasi tidak sakit, tapi memang disuntik. Tidak ada efek apa-apa, kami perlu pastikan. Jadi jangan takut,” ucap Jokowi disambut aplaus hadirin.Lebih lanjut Presiden menu-turkan, menjaga dan membuat anak tetap sehat adalah tugas setiap orang tua dan negara.

Anak-anak dititipkan Tuhan untuk disayangi, dididik, dijaga, dan diayomi. Termasuk menja-ga mereka dari penyakit ber-bahaya dan mematikan.Nah, campak dan Rubella ter-masuk penyakit berbahaya di dunia yang mengancam anak-anak saat ini. Sementara di Indonesia masih sangat sedikit anak-anak usia 9 bulan-15 tahun yang mendapatkan imunisasi campak dan Rubella.

“Kurang dari satu persen. Yang sudah mendapat imunisasi Measless Rubella baru sekitar 0,05 persen,” ungkap Presiden.

Idealnya, lanjut Jokowi, lebih dari 95 persen anak-anak Indo-nesia harus sudah mendapat imunisasi MR. Bahkan seluruhnya, tanpa kecuali. Presiden meminta masyarakat tidak meremehkan virus campak dan rubella.

Sebab, keduanya bisa berbahaya jika sampai menular pada ibu hamil. Bayi yang dilahir-kan bisa mengalami cacat bawaan yang tidak bisa disembuhkan. “Harus hati-hati sekali,” tegasnya.

Jokowi menargetkan pada 2020 Indonesia bebas campak dan Ru-bella. Target itu bisa tercapai jika dimulai sekarang. Terlebih Indo-nesia pernah berhasil melakukan-nya untuk cacar, polio, dan tetanus.Sementara itu, pelaksanaan imunisasi MR di SD Muhamma-diyah Sapen, Kota Jogja berlang-sung cukup riuh. Keriuhan ber-asal dari teriakan dan tangis dari mulut sebagian siswa saat disuntik vaksin.

Ya, pemberian vaksin MR memang membuat beberapa siswa ketakutan. Para guru dan tenaga medis pun di-sibukkan untuk menenangkan para siswa. Termasuk Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) yang sesekali mengajak bicara siswa untuk mengalihkan perhatian supaya tidak ketakutan.Dalam kesempatan itu HS me-minta seluruh warga Kota Jogja menyukseskan imunisasi MR.

“Mari semua orang tua ajak pu-tra-putrinya ikut imunisasi di sekolah maupun posyandu,” ajaknya.

HS menegaskan, imunisasi MR penting untuk masa depan anak-anak. Imunisasi demi melindu-ngi kesehatan generasi penerus bangsa. “Jangan korbankan masa depan putera-puteri kita,” lanjut dia.

Di bagian lain, memasuki bu-lan imunisasi nasional, Dinas Kesehatan Sleman mulai men-distribusikan sekitar 250 ribu vaksin ke lembaga kesehatan dan pendidikan. Kepala Dinas Kesehatan Sleman Nurulhayah mengatakan, distri-busi vaksin tak terbatas ke seko-lah-sekolah atau posyandu. Tapi juga pondik bersalin desa, pos kesehatan desa, puskesmas, hing-ga rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan.

Di Sleman tercatat ada 245.453 anak usia layak vaksin.Bupati Sleman Sri Purnomo mendorong seluruh jajaran pe-merintahan turut mengampa-nyekan imunisasi MR. Sehingga bukan hanya pegawai dinas kese-hatan yang getol berkampanye. Berkaca pada 2016, di Sleman terdapat 72 kasus campak dan Rubella 100 kasus.

Sementara hing-ga semester awal 2017 tercatat 70 kasus campak dan 28 Rubella. “Berapapun kasusnya tetap harus mendapat penanganan dan perhatian yang serius. Ini butuh kesadaran semuanya, terutama para orang tua untuk mengimunisasikan anak-anaknya,” kata Sri Purnomo. (riz/pra/dwi/yog/ong)

Breaking News