MUNGKID – Kawasan objek wisata Candi Borobudur dan sekitarnya beberapa waktu terakhir sering dilalui kendaraan becak bermotor (bentor). Kondisi ini mendapat perhatian Polres Magelang. Akhirnya, petugas menyita 10 bentor yang lalu lalang di sekitar Borobudur dan Salaman.

Bentor yang beredar di jalan raya dinilai tidak memenuhi standar kelaikan. Mulai dari laju bentor yang tidak stabil, jarak pandang yang tidak standar, dan lainnya. Dari 10 bentor ini, enam ditemukan di kawasan wisata Borobudur dan empat lainnya di wilayah Kecamatan Salaman.

“Sepuluh bentor ini kami amankan sejak satu bulan terakhir,” kata Kasat Lantas Polres Magelang AKP Didi Dewantara melalui Kepala Bagian Operasi (KBO) Satuan Lalu Lintas Polres Magelang Iptu Suyanto kemarin (1/8).

Dari 10 bentor, enam sudah boleh diambil. Sementara sisanya masih terparkir di halaman belakang Mapolres Magelang. Bentor yang diamankan boleh diambil ketika kondisinya sudah dikembalikan seperti motor standar.

Polisi beralasan mengamankan bentor karena motor sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Mulai dari bagian depan, kemudi diganti roda dua, sasis ditambah lebih panjang. Kondisi tersebut mengakibatkan laju kendaraan tidak stabil.

“Laju kendaraan tidak stabil, berjalan sekitar 20 km/jam saja sudah goyang. Selain itu jarak pandang pengemudi juga terhalang. Apalagi tangan pengemudi menampung beban penumpang yang berlebih,” jelasnya.

Kanit Rek Iden Satlantas Polres Magelang Sodiq menyatakan, atas hal ini kondisi kendaraan tidak sesuai dengan persyaratan teknis dan laik jalan. Seperti yang tertuang pada Pasal 285 Ayat 1, UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas. Sanksi yang dikenakan denda Rp 250 ribu. Polisi khawatir jika tidak ditindak, maka berpotensi muncul konflik horizontal dengan becak biasa.

“Bagi bentor yang membandel terkena tiga kali penindakan, maka divonis tidak boleh keluar dan disita. Itu khusus yang membandel karena berpotensi dioperasikan kembali,” katanya. (ady/laz/ong)

Breaking News