Jadi Buruh Senggrong Dadakan, Keruk Pasir Sungai Pabelan

Ada-ada saja ulah para Jurnalis Perempuan (Jupe) Magelang menyambut Hari Kartini. Bukannya memakai kebaya dan sanggul, mereka malah menjadikan serok dan sekop sebagai aksesori. Untuk mengeruk pasir di dasar Sungai Pabelan.
JEREMIA EKA. Magelang
Siang kemarin (20/4) cuaca cukup cerah. Langit biru dan tenangnya aliran Sungai Pabelan di Kabupaten Magelang seolah mendukung niat baik para kuli tinta perempuan yang ingin sejenak meluangkan waktu. Bukan untuk berleha-leha menikmati semilirnya angin tepian sungai. Bukan pula untuk berpose wefie atau selfiei dengan latar belakang sungai yang mengalirkan lahar hujan Gunung Merapi.

Tanpa banyak basa-basi, beberapa wartawan perempuan dari sejumlah media massa segera menyingsingkan lengan baju dan menggulung celana panjang, kemudian menceburkan diri ke tengah aliran sungai. Tak lupa, mereka membawa selendang lurik untuk menggendong tenggok sambil menenteng serok. Topi caping untuk menutupi kepala dari terjangan sinar matahari. Mereka membaur dengan ibu-ibu buruh keruk pasir yang biasa mencari nafkah di bawah Jembatan Srowol, di perbatasan Kecamatan Mungkid dan Muntilan.

Keringat bercucuran merusak make up wajah tak menjadi halangan bagi mereka untuk membantu para buruh pasir. Saat itu, mereka membuang jauh-jauh perasaan malu dan canggung. Momentum Hari Kartinilah yang mendorong mereka untuk ikut merasakan beratnya menjadi buruh kasar penambang pasir manual. ” Kami memang ingin mengisi Hari Kartini dengan sesuatu yang berbeda. Tanpa sanggul dan kebaya, berjuang bersama para buruh pasir perempuan,” ungkap Koordinator Jupe Kurniawati.

Sangat terlihat betapa kerepotannya para Jupe. Bahkan, ada yang tak kuag menggendong pasir seberat sekitar 20 kilogram. Namun, dengan semangat kebesamaan, pasir diangkut berdua, sehingga terasa lebih ringan.

Menjadi buruh pasir dadakan tentu bukan tanpa alasan. Setidaknya, itu berangkat dari rasa empati kepada nasib para buruh pasir perempuan. Mundariah, misalnya.
Setiap hari dia harus menambang pasir demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi, perempuan 45 tahun itu harus menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya meninggal dunia 10 tahun lalu akibat kecelakaan lalu lintas.

Sejak pukul 06.00 Mundariah sudah siap di Sungai Pabelan untuk menambang pasir. Tiap hari ibu tiga anak itu mengangkut 30-50 tenggok pasir. “Jane wis ora kuat. Tapi bagaimana lagi, demi keluarga semua saya jalani dengan senang hati,” tuturnya.
Jerih payah Mundariah ternyata hanya dihargai Rp 100 ribu per minggu. Upah yang sangat kecil jika dibanding kebutuhan hidupnya yang masih harus menyekolahkan ketiga anak. “Dulu pernah saya terseret arus sungai saat banjir tiba-tiba dating. Tetapi Tuhan masih menyelamatkan saya,” kenang Mundariah sambil menyeka air mata.

Perjuangan Mundariah itulah yang memacu semangat para Jupe Magelang meledak-ledak. Karena itulah, mereka tak ingin memoles diri dengan kebaya dan sanggul dalam memperingati Hari Kartini tahun ini. Tapi pilih mengabdi, sekaligus bersosial meringankan beban para buruh senggrong pasir Sungai Pabelan.(yog/ong)

Boks