RADARJOGJA.CO.ID–Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ternyata banyak yang tak diungkap. Bahkan, beberapa sejarah sengaja disimpan. Tapi, pergantian kekuasaan, membuat beberapa sejarah sebenarnya republik ini terkuak di permukaan.

Seperti sejarah Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Peristiwa yang sangat penting untuk eksistensi NKRI. Dari peristiwa itu, negara dunia yang saat itu hampir saja mengakui klaim Belanda jika NKRI sudah tidak ada berbalik arah.

Peristiwa yang membukakan mata dunia itu tak bisa dilepaskan dari peran Keraton Jogja dan Rajanya saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX. Meski dalam buku-buku sejarah tidak banyak dikupas, peran Keraton Jogja dan HB IX ternyata sangat besar dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia saat itu.

Bagi kerabat Keraton Jogja KR Jatiningrat, peran Kerarton Jogja dan HB IX bagi Republik Indonesia sudah dimulai sejak 4 Januarai 1946, yaitu mempersilahkan ibu kota Republik Indonesia dipindah dari Jakarta ke Jogjakarta. Bahkan saat itu Keraton Jogja yang memfasilitasinya. Hal itu meneguhkan semangat Jogjakarta menjadi bagian Republik Indonesia. “Dengan demikian jelas Sultan sudah memihak ke Republik dengan segala konsekuensi kalau ada apa-apa, termasuk diserang Belanda, Keraton dan seluruh rakyat Jogja siap menghadapinya,” jelasnya kemarin (27/2).

Ancaman tersebut terbukti dua tahun berikutnya, pada 19 Desember 1948 Belanda benar-benar menyerang ibukota Republik Indonesia di Jogja atau yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda II. Karena serangan etrsebut Presiden Sukarno akhirnya ditawan Belanda, Jenderal Sudirman memilih melakukan perlawanan dengan gerilya dan HB IX memilih tetap berada di Keraton Jogja. “HB IX tetap di Keraton itu supaya tetap bisa berhubungan dengan tentara dan rakyat,” jelas Romo Tirun, sapaanya.

Breaking News