RADARJOGJA.CO.ID-Perayaan Hari Raya Imlek di Jogjakarta atau kerap disebut Pekan Budaya Tionghoa Yogyakata (PBTY) tinggal menghitung hari. PBTY ke-12 ini rencananya akan digelar selama sepekan mulai 5-11 Februari 2017 di Kampung Ketandan, belakang Malioboro. Event kali ini mengangkat tema Pelangi Budaya Nusantara Indonesia.

“Menampilkan kebhinnekaan Indonesia. Nantinya ada atraksi dari berbagai suku daerah, termasuk dari Tionghoa,” ujar Ketua Panitia PBTY 2017 Tri Kirana Muslidatun, Rabu (1/2).

Ana, sapaannya, mengungkapkan, PBTY sejak awal memang dikonsep untuk memfasilitasi budaya Nusantara yang hidup di Jogja. Terlebih sudah sejak lama Jogja dikenal sebagai miniatur Indonesia, karena terdapat masyarakat dari Aceh hingga Papua.

Atraksi dari tiap provinsi ditampilkan dalam karnaval PBTY. “Setiap tahun akan di-rolling peserta dari daerah yang ikut, karena tidak mungkin 34 provinsi ikut semua,” ujarnya.

Karnaval sekaligus pembukaan PBTY 2017 sendiri direncanakan pada Minggu malam (5/2) dimulai dari Taman Khusus Parkir Abu Bakar Ali (ABA) hingga Alun-Alun Utara.

Karnaval akan diikuti oleh 24 peserta, termasuk naga batik terpanjang se-Asia. Naga batik ini memiliki panjang 134 meter. “Tahun lalu memecahkan rekor MURI. Panjang naga belum akan diperpanjang karena masih memegang rekor. Untuk perawatannya saja butuh Rp 30 juta,” ungkap Ana.

Ketua II PBTY Jimmy Sutanto menambahkan, PBTY awalnya merupakan ide dari dosen pertanian UGM Murdiati Gardjito pada Mei 2005. Dia berkeinginan menyusun buku resep makanan Tionghoa di Jogja.

Ketika ide tersebut disampaikan ke Gubernur DIJ HB X, malah mengusulkan supaya dikembangkan ke budaya Tionghoa. “Apalagi sejak 2003, Ngarso Dalem sudah mengkampanyekan Jogja City of Tolerance,” jelasnya.

Keindonesiaan lainnya yang akan ditampilkan dalam PBTY kali ini yakni dalam pemilihan cici dan koko. Dalam persyaratanya, peserta cici dan koko tidak harus berasal dari kalangan Tionghoa atau harus bisa berbahasa Mandarin.

“Untuk tahun ini bebas dari latar belakang apapun, yang mungkin berat syaratnya harus single dan berpenampilan menarik,” kelakarnya.

Selama gelaran PBTY 2017 juga digelar berbagai kegiatan seni, wayang potehi serta menampilkan rumah Tionghoa masa lalu hingga kuliner. Bahkan untuk stan kuliner, dari 134 stan yang dipersiapkan oleh panitia sejak beberapa bulan sebelumnya sudah habis dipesan. “Dari 134 stan kuliner, 132 stan untuk makanan halal. Nanti akan ditulis yang besar untuk makanan halal,” jelasnya. (pra/eri)

Breaking News