Dipicu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi dan Cabai

RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Kenaikan harga cabai dan bersaman per 5 Januari harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik, diprediksi akan mempengaruhi inflasi di awal tahun ini. Namun jika dampaknya berkelanjutkan, dikhawatirkan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Pakar ekonomi Edy Suandi Hamid mengatakan, kenaikan harga cabai sudah terbukti mempengaruhi inflasi yang sangat signifikan kenaikannya. Terlebih lagi dengan adanya kenaikan harga BBM, ia memprediksi inflasi relatif lebih tinggi dari biasanya.

“Saya meyakini awal tahun ini akan terjadi kenaikan inflasi di luar kebiasaan,” ujar Edy di Komplek Kepatihan, kemarin (5/1).

Kenaikan harga BBM nonsubsidi terhitung mulai 5 Januari sebesar Rp 300 per liter untuk semua jenis bahan bakar khusus (BBK) yakni pertamax, pertamax plus, pertamina dex, dexlite, pertalite dan pertamax turbo.

Dengan kenaikan harga BBM itu, bukan hanya kendaraan pribadi saja yang akan merasakan, tetapi semua kendaraan termasuk kendaraan umum. Jika dilihat secara proporsional, kenaikan BBM kali ini akan menyentuh inflasi untuk naik.

Ia menambahkan, yang harus diwaspadai bukan hanya soal inflasi, tetapi antisipasi agar tidak menimbulkan dampak kepada komoditas lainnya.

“Cabai kan juga nonsubsidi, apa pun yang naik akan berpengaruh pada inflasi. Tapi semoga ini hanya momentum dan terjadi hanya di bulan Januari ini. Tapi kita lihat lagi, kalau berlanjut terus maka akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” ujar salah satu anggota Parampara Praja ini.

Ketua Kadin DIJ GKR Mangkubumi mengakui kondisi seperti ini memang tidak bagus, terutama dampak yang akan dirasakan oleh para pelaku UKM. Untuk itu, pihaknya segera mengajak anggota Kadin DIJ untuk berdiskusi dan mengasosiasi para UKM untuk menyikapi kondisi saat ini.

“Tentu akan menjadi beban bagi UKM karena harga produksi naik, sedangkan daya beli jadi berkurang. Kami akan segera cari solusi agar dampaknya tidak merugikan UKM,” ujarnya. (dya/laz/ong)

Breaking News