SLEMAN – Polda DIJ dan Polresta Jogjakarta masih berupaya melakukan penyelidikan untuk menangkap pelaku teror pembacokan yang terjadi Senin (25/4) lalu. Dalam langkah pendalaman tersebut, Kapolda DIJ memerintahkan jajarannya melakukan patroli sekala besar. Operasi besar-besaran itu menurunkan semua fungsi operasional kepolisian, mulai dari Sabhara, Lantas serta Polair.

Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti mengatakan, operasi ini dilakukan sejak Selasa (26/4) sampai melihat kondisi di lapangan stabil, tanpa batas waktu tertentu. “Kapolda memerintahkan jajaran melakukan razia besar-besaran dengan target premanisme, senjata tajam, dan narkoba. Mengenai upaya pengungkapan kasus penyayatan, masih dilidik dan didalami. ” katanya kepada wartawan di Mapolda DIJ, Kamis (28/4).

Piahknya mengimbau kepada masyarakat, terkait kejadian tersebut untuk tidak perlu takut dan tetap tenang. Namun, di sisi lain tetap meningkatkan kewaspadaan. “Tetap beraktivitas seperti biasa. Tidak perlu panik, Kapolda bertanggung jawab keamanan di Jogjakarta,” jelasnya.

Sedangkan mengenai penyelidikan kasusnya, Anny mengatakan, Polsek dan Polresta Jogjakarta mendapat back up dari Polda DIJ. “Kami berupaya mengungkap kasus ini, tapi tidak bisa disampaikan detail. Karena itu termasuk taktik dan strategi polisi,” ungkapnya.

Ditanyakan mengenai tim khusus untuk mengejar pelaku penyayatan, dia mengungkapkan, Polda DIJ telah memerintah jajaran reserse berkoordinasi dan mengumpulkan semua data serta bukti-bukti dan keterangan saksi-saksi. “Kalau untuk sketsa wajah pelaku, tidak menutup kemungkinan nanti akan dilakukan,” ujarnya.

Ditanya mengenai adanya keterkaitan teror di Jogja dan Magelang dalam kasus penyerangan terhadap belasan perempuan itu, Anny menyebut, polisi belum bisa menyimpulkan. “Namun yang jelas terkait apapun motifnya, tindakan tersebut jelas melanggar hukum, dan masuk ranah pidana. Polisi tidak akan memberikan toleransi,” tandasnya.

Sebelumnya, Kapolda DIJ Brigjen Pol Prasta Wahyu Hidayat menjanjikan dalam waktu tidak lama akan menangkap pelakunya.

Ditemui terpisah, Kapolsek Kotagede Kompol Suparman mengaku, hingga kini pihaknya masih dalam tahap pengumpulan data, informasi, dan keterangan saksi serta korban. Pihaknya juga masih mempelajari rekaman CCTV untuk mempertajam penyelidikan.

“Terkait sketsa wajah terduga pelaku, kami tidak pernah mengedarkan. Bahkan itu bukan kewenangan kami,” katanya kepada wartawan.

Pihak kepolisian, katanya, tidak bisa tergesa-gesa dan asal tangkap tanpa disertai bukti dan saksi yang cukup. Pihaknya juga mengimbau agar warga tidak resah. “Penjagaan di sejumlah titik semakin diintensifkan. Juga kami adakan razia malam dan subuh. Itu untuk memastikan keamanan warga,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X meminta aparat kepolisian bisa segera menangkap dan mengungkap motif penyayatan yang terjadi di Kota Jogja. Menurut HB X, kasus penyayatan di Jogja tersebut hampir sama kasusnya dengan penembakan di Magelang.‬
“Saya belum tahu motifnya sekadar usil atau ada sesuatu untuk menimbulkan rasa takut,” ujar HB X saat ditemui di Kompleks Kepatihan, kemarin (28/4).

HB X mengaku prihatin dengan kejadian tersebut dan berharap polisi bisa menangkap pelakunya karena menimbulkan keresahan di masyarakat.‬ Raja Keraton Jogjakarta tersbeut membantah jika dikatakan kejadian tersebut menimbulkan rasa tidak aman di DIJ. “Yang melakukan juga individu bukan masal. Jogja aman,” jelasnya.‬
Suami GKR Hemas tersebut juga meminta masyarakat hati-hati jika berjalan saat malam hari atau siang hari di tempat tertentu. Juga menghindari tempat-tempat sepi. Menurutnya, kejahatan bisa terjadi dimana saja.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Kadarmanta Baskara Aji juga meminta peristiwa penyayatan di Jogja tersebut bisa segera diungkap. Terlebih korban yang disasar merupakan pelajar dan mahasiswa.

“Kalau tidak segera diatasi bisa membuat takut berangkat sekolah atau tidak berani bermain sendirian,” ungkapnya.‬
Terkait dengan korban sendiri , Aji mengaku, Disdikpora DIJ sudah menawarkan pendampingan psikolog. Tetapi ternyata,jelas Aji, korban Ner, 12, sudah pede (percaya diri) untuk berangkat sekolah dan mengikuti ujian meski dengan beberapa jahitan di tangannya.

“Sekolah tidak meminta ke dinas, mungkin guru BP atau kepala sekolah bisa melakukan pendampingan sendiri,” jelas Aji. (riz/pra/ila)

Breaking News