HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
JAGA TRADISI: Pengageng Kawedanan Budaya dan Pariwisata Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo (kiri) bersama rombongan saat menuruni tangga Astana Girigondo, kemarin (28/4).
KULONPROGO – Kadipaten Pakualam masih cukup kuat dalam mempertahankan pakem (tradisi). Salah satunya tersimak dalam ritual ziarah di Astana Girigondo, Kaligintung, Temon, Kulonprogo, kemarin (28/4). Tradisi leluhur itu merupakan rangkaian kegiatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-204.

Jelang pukul 11.00 WIB rombongan kerabat Kadipaten Pakualaman yang menggunakan satu unit bus berpelat merah tiba di Astana Girigondo. Begitu turun, para kerabat dengan setelan pakaian adat Jawa jangkep langsung menaiki anak tangga menuju kompleks pemakaman PA V-PA VIII. Para juru kunci sudah menunggu di bangsal masuk, setelah rehat sebentar dan menyiapkan segala ubo rampe acara inti dilakukan.

Lantunan ayat-ayat suci yang dirangsum dalam tahlil dikumandangkan, asap dupa mengepul berpadu dengan harum ritus menyeruak menusuk hidung, menambah susana menjadi semakin sakral. Rangkaian ritual itu kemudian dikunci dengan tabur bunga, secara runtut diawali dari pusara PA IV, PA V, PA VII, hingga PA VIII. Kemudian merambah ke semua kerabat yang sudah disemayamkan di puncak kompleks pemakaman. Ziarah dilanjutkan di makam PA IX yang berada terpisah, tepatnya di tenga-tengah kompleks Astana Girigondo.

“Ziarah kali ini merupakan rangka peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-204. Mestinya nanti di bulan Juni, tetapi bersamaan dengan puasa sehingga diajukan,” kata Pengageng Kawedanan Budaya dan Pariwisata Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo saat rehat di halaman depan Masjid Pakualaman Girigondo.

Dijelaskan, sebelum melakukan ziarah, sebelumnya juga sudah dilakukan wilujengan (selamatan) di Kadipaten Pakualaman. Masuk rangkaian kegiatan, mulai tanggal 30 April hingga 1 Mei digelar sejumlah lomba. Di antaranya lomba macapat, melukis, menari, dan jemparingan (memanah dengan cara tradisional Mataraman).

“Selain itu juga ada Pacuan Kuda PA IV pada tanggal 29 Mei mendatang. Puncak acara 4 Juli, termasuk pembagian hadiah bagi para pemenang lomba-lomba yang sudah dilaksanakan,” jelasnya.

Menurut KPH Indrokusumo, peringatan ini rutin dilaksanakan Kadipaten Pakualaman untuk menebalkan eksistensi Kadipaten Pakualaman sebagai bagian NKRI. Sebagai tanda Kadipaten Pakualaman itu ada dan sudah bergabung serta mengikuti apa yang dilaksanakan NKRI. “Karena dalam UUK sendiri dasarnya adalah Keraton Kasultanan dan Kadipaten Pakualaman,” ujarnya.

Disinggung prosesi pelantikan Paku Alam (PA) X sebagai wakil gubernur, GPH Indrokusumo secara normatif menuturkan, prosesi itu sebetulnya menjadi ranah Pemprov DIJ dan DPRD. Namun, DPRD sempat mengusulkan, pelantikan itu dilaksanakan di Jogjakarta. Tapi, semua itu juga belum ada keputusan dari pusat.

“Karena yang berhak melantik itu presiden. Tanggalnya juga belum ditetapkan, sekali lagi itu menjadi urusan pemprov dengan kesepakatan pusat,” tuturnya.

Saat dicecar pertanyaan apakah ada kaitannya peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman dengan Pelantikan PA X, dia menegaskan, jika dilantik di Jogjakarta (Istana Negara atau Gedung Agung) itu juga bisa melegitimasi kembali, bahwa ada dwi tunggal di Jogjakarta yang tetap lestari.

Takmir Masjid Pakualaman Girigondo HM Soim mengungkapkan, bersamaan dengan momen Hadeging Kadipaten Pakualaman, di komplek Astana Girigondo juga menggelar kegiatan pengajian dan Sama’an Alquran. “Hari ini (28/4) warga melakukan Sama’an Alquran. Jumat (29/4) tokoh masyarakat sini juga akan berziarah dan mengelar doa bersama (tahlilan). Malamnya akan digelar pengajian akbar oleh KH Chalwani Nawawi dari Purworejo,” ungkapnya. (tom/ila)

Breaking News