JOGJA – Kasus pembacokan dengan cutter yang melukai tiga orang pada Senin (25/4) lalu menjadi perhatian banyak pihak. Hingga kini, kepolisian masih mengejar pelakunya dengan berbekal barang bukti rekaman CCTV dan keterangan saksi-saksi.

Sosiolog Kriminal UGM Suprapto mengatakan, setidaknya ada empat kemungkinan motivasi pelaku melakukan aksi kriminal itu. Pertama, katanya, tidak menutup kemungkinan kejadian itu berkaitan jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang salah satunya digelar di Kota Jogja pada 2017 mendatang. “Tapi kecil kemungkinannya arahnya ke situ,” kata Suprapto saat dihubungi Radar Jogja, Rabu (27/4) kemarin.

Sedangkan yang kedua, tindakan itu upaya dari eksistensi diri sebuah kelompok atau geng tertentu untuk unjuk kekuatan agar musuhnya mengetahui. Atau seseorang agar diketahui jasanya dan bisa digunakan kekuatan tertentu yang membutuhkan.

“Kemungkinan ketiga adalah kegiatan iseng dari orang tertentu sebagai pelampiasan kondisi kejiwaannya,” ungkapnya.

Kemungkinan keempat, menurut Suprapto, penyayatan itu adalah syarat aliran tertentu untuk anggotanya bisa naik tingkat apabila bisa berhasil melukai lengan kanan korban. Sebab, melihat dari tindakannya menyayat lengan kanan pada ketiga korbannya. “Tidak hanya bacok tapi memilih lengan, spesifik lagi sebelah kanan,” ungkapnya.

Sementara ini, dia lebih condong pada kemungkinan nomor dua dan empat. Kendati banyak yang menduga bahwa pelakunya psikopat.

“Kalau psikopat masuk ke kemungkinan ketiga, karena kondisi kejiwaan tertentu. Hanya, kalau psikopat dia asal saja menyakiti, bisa kepala atau bagian tubuh lain. Tapi ini kenapa harus lengan kanan, seperti ada kriteria tertentu,” paparnya.

Dia juga meragukan apabila penyerangan itu identik dengan pelemparan petasan pada simpatisan partai beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu tidak ada kaitannya, dengan insiden di Sleman itu.

“Kalau Sleman itu murni orang iseng yang melampiaskan kekecewaan dan dia tidak tahu akibatnya fatal. Menurut saya tidak ada hubungan dan keterkaitan,” ujarnya.

Di sisi lain, menurut pria yang juga Kepala Pusat Studi Wanita UGM ini menyebut, perlu pendampingan yang intensif kepada korban agar pulih dari traumanya. Diperlukan pula pendekatan dari psikolog agar korban tidak larut dalam ketakutan dampak dari insiden tersebut.

Dua dari ketiga korban diketahui saat ini masih shock. Pihak keluarga membatasi kunjungan termasuk bagi awak media. Menurutnya, hal itu bisa dipahami, mengingat kejadian tersebut tidak bisa diprediksi.

“Memulihkan trauma jelas perlu waktu, dan setiap orang bisa berbeda waktunya. Dia baru mengalami unpredictable accident. Pendampingan harus dilakukan, berapa lama tergantung orangnya. Bisa cepat bisa juga lama,” ungkapnya.

Dia berharap kejadian tersebut tidak lagi terulang. Langkah yang menurutnya harus dilakukan polisi adalah meningkat intensitas patroli kualitas dan kuantitas. “Karena peristiwa begitu cepat, tidak banyak saksi yang melihat. Masyarakat segera memberikan informasi apabila ada hal yang aneh dan janggal. Sistem kontrol keamanan perlu terus diperkuat,” tandasnya. (riz/ila/ong)

Breaking News