GUNUNGKIDUL – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari saat ini mengalami krisis tenaga medis. Minimnya tenaga mendis khusus dokter spesialis ini mulai mengganggu pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.

“Dokter spesialis di sini masih sangat minim. Misalnya, dokter spesialis bedah baru memiliki satu orang dokter, obsgyn baru dua orang dokter, dan dokter syaraf baru memiliki satu orang dokter,” kata Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUD Wonosari, Aris Suryanto, kemarin.

Namun untuk dokter spesialis penyakit dalam sudah lengkap. Tiga orang dokter, satu di antaranya merupakan dokter kontrak dan spesialis anak sudah memiliki tiga orang dokter. Minimnya jumlah tenaga spesialis mengganggu pelayanan kesehatan. “Upaya kami untuk naik ke kelas B, juga terganjal,” ujarnya.

Menurut Aris, untuk dapat naik kelas, minimal ada lima spesialisasi bidang penyakit, yakni penyakit dalam, obsgyn, anak, saraf dan bedah harus sudah memiliki minimal tiga orang dokter spesialis. Sementara di RSUD Wonosari, tiga bidang spesalisasi jumlah dokternya masih kurang dari ketentuan.

“Manajemen sudah mengajukan formasi penerimaan CPNS ke BKD. Hanya saja, hingga saat ini belum disetujui,” ujar Aris.

Mengatasi persoalan yang ada, manajemen berusaha melakukan rekrutmen tenaga dokter spesialis kontrak. Satu dokter penyakit dalam, ahli jantung dan satu orang dokter ahli syaraf. Dengan tambahan satu orang ahli jantung, maka untuk dokter penyakit dalam sudah sesuai dengan batas minimal, yakni tiga orang.

“Kami juga akan kembali membuka rekrutmen. Manajemen melakukan kerja sama dengan RSUP Dr Sardjito Jogjakarta,” terangnya.

Di RSUP Dr Sardjito, kata Aris, masih ada dokter yang izin praktiknya baru dua lokasi sehingga bisa diminta menjadi dokter spesialis di RSUD Wonosari. RSUD Wonosari belum mampu menyekolahkan dokter umum menjadi dokter spesialis.

Sementara itu, PJs Sekda Gunungkidul, Supartono mengatakan, untuk mengatasi krisis dokter spesialis, tahun ini dialokasikan anggaran khusus untuk menyekolahkan dokter umum menjadi dokter spesialis. “Tapi berapa anggaranya, saya tidak hapal,” kata Supartono. (gun/iwa)

Breaking News