JOGJA – Dinamika Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2017 mulai mendekati puncak. Peta dukungan yang semula belum jelas, sepuluh bulan jelang coblosan mulai menguat. Garin Nugroho yang maju sebagai calon independent mendapatkan dukungan dari mantan komisioner KPK Busyro Muqoddas. Sedangkan dua partai besar, PDIP dan PAN mulai melangkah bersama.

Ini terlihat dari undangan dari DPP PDIP terhadap dua kandidat terkuat dari PAN Arif Noor Hartanto dan Heroe Poerwadi. Sementara, calon petahana Haryadi Suyuti kian dekat dengan Partai Golkar dan Partai Gerindra.

Koordinator Sekretariat Jogja Independent (Joint) Yustina Neni menuturkan, dukungan untuk Garin Nugroho dan Rommy Heryanto yang maju dari jalur perseorangan sudah hampir mencapai seribu KTP. Itu belum ada launching gerakan wakaf KTP yang akan dimotori Joint.

“Baru dari semua relawan Joint. Termasuk Pak Busyro Senin (25/4) lalu di Kantor PP Muhammadiyah itu pun tidak dijadwalkan. Karena beliau berdua (Garin dan Busyro) yang saling kontak,” ujar, kemarin (26/4).

Neni menjelaskan, dukungan ini akan sangat menyemangati relawan Joint. Sebab, dengan adanya dukungan dari Busyro pasti akan banyak diikuti warga Muhammadiyah lain. Terlebih, Kota Jogja selama ini memang menjadi ibu kota dari Muhammadiyah. “Kami lebih optimistis untuk dapat mengumpulkan dukungan sebanyak 45 ribu KTP,” katanya.

Di lain pihak, tawaran dari Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan untuk berkoalisi dengan PDIP bersambut positif. DPP PDIP pada Rabu (20/4) lalu bahkan telah memanggil dua kandidat dari PAN Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto (Inung) dan Ketua DPD PAN Kota Jogja Heroe Poerwadi.

Pemanggilan ke Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta itu untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan. Ketua DPP PDIP Idham Samawi memastikan, pemanggilan kedua kandidat calon wali kota dari PAN itu merupakan bagian dari pertimbangan politis. Yakni, tawaran dari Zulkifli Hasan saat melantik pengurus DPW PAN DIJ.

“Selain pertimbangan politis, kami juga mempertimbangkan survei serta hasil fit and proper test. Kalau memang semuanya memenuhi syarat, tentu ajakan dari Ketua Umum PAN tidak bisa dikesampingkan,” kata Idham.

Mantan Bupati Bantul ini enggan untuk menegaskan formasi koalisi PDIP dengan PAN. Sebab, di partainya akan ada dua jenis bentuk dukungan. Pertama surat tugas, yang biasanya diberikan kepada calon gubernur, bupati atau wali kota yang kuat untuk mencari pendamping. Kedua, surat rekomendasi, yang bentuknya sudah nama pasangan. “Tinggal mana yang keluar,” ungkapnya.

Sementara itu, di internal Partai Gerindra juga kian menguat dalam mengusung calon petahana Haryadi Suyuti (HS). Tapi, mereka masih mengkaji berbagai pertimbangan politik yang ada. Termasuk, pasangan bagi HS.

“Nanti menunggu perkembangan. Yang jelas beliau termasuk yang mengambil formulir,” kata Ketua DPC Partai Gerindra Kota Jogja Anton Prabu Semendawai.

Selain Gerindra, peluang koalisi pengusung HS, adalah Partai Golkar dan PKS. Partai Golkar sudah mengusulkan nama HS untuk mendapatkan lampu hijau dari DPP Golkar DIJ. Sedangkan, PKS dan Gerindra sudah mesra sejak Pilpres dan Pilbup di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunungkidul. “Paling ada chemistry memang dengan Gerindra,” ungkap fungsionaris PKS Kota Jogja Bambang Anjar Jalumurti. (eri/ila)
Peta Dukungan Kian Terlihat

Breaking News