ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
UNAS BOCOR: Asisten ORI perwakilan Jogjakarta saat menunjukkan barang bukti kebocoran soal PBT yang dilaporkan oleh siswa SMA Negeri di Jogjakarta, Senin (11/4). Ada puluhan gambar bocoran soal dan satu kunci jawaban soal matematika pada barang bukti pelaporan.
JOGJA – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ membentuk tim investigasi bersama Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan Jogjakarta. Tim ini bertugas menyelidiki isu kebocoran Ujian Nasional (Unas) paper based test (PBT) yang sempat terjadi di Jogjakarta belum lama ini.

Tim ini dibentuk setelah Disdikpora bertemu dengan ORI DIJ di kantor Disdikpora, Senin siang (11/4). Tindak lanjut dilakukan setelah ORI DIJ menerima laporan kebocoran dari salah satu siswa SMA Kota Jogja.

Kepala Disdikpora DIJ Baskara Aji mengatakan, data yang ada di ORI DIJ bisa digunakan untuk mendeteksi barcode soal. Menurutnya, setiap daerah memiliki barcode yang berbeda-beda. Sehingga, dari foto tersebut bisa ditelusuri daerah mana yang terjadi kecurangan.

“Siswa di Jogjakarta melaporkan, tapi dia tidak terlibat. Nah, tim ini dibentuk sebagai komitmen bersama untuk menjaga integritas penyelenggaraan unas,” ujarnya, kemarin (11/4).

Seperti diketahui, sebelumnya terjadi upaya pembocoran soal melalui grup Line. Dalam grup ini berisi sekitar 195 siswa SMA/SMK dari seluruh Indonesia. Seorang siswa ditengarai memotret soal PBT dan mengunggahnya ke grup tersebut. Siswa yang mengunggah juga sempat menanyakan jawaban dari soal tersebut.

“Sebenarnya yang di Line itu adalah soal yang sudah beredar, karena sudah dikerjakan pada hari sebelumnya. Kesimpulan saya, sebenarnya bukan kebocoran murni, tapi masalah ini tetap jadi konsentrasi kami,” tegasnya.

Untuk saat ini Unas PBT telah berakhir, sementara Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk SMA masih berlangsung. Sedangkan untuk UNBK SMK telah berakhir Kamis (7/4) lalu. Tersisa UNBK susulan yang berakhir hari ini (12/4).

Terkait evaluasi penyelenggaraan unas, Aji menilai, ada beberapa catatan. Terutama masalah teknis penyelenggaraan unas. Dia juga mengirimkan rekomendasi ke pemerintah pusat terkait penyelenggaraan unas tahun mendatang.

Aji mengungkapkan, untuk menuju UNBK, regulasi tentunya harus dipermudah. Terkait penggunaan komputer sebagai media ujiannya. “Jika niatnya ingin seluruh UNBK sebaiknya disiapkan secara total dan sistematis, baik regulasi maupun mekanismenya,” ungkapnya.

Menurutnya, UNBK dinilai lebih efisien dan praktis. Ini dirasakan langsung oleh penyelenggara maupun siswa peserta ujian. Pertama adalah penghematan biaya Negara, dan kedua terkait kebocoran soal unas.

“UNBK dinilai lebih aman dan tidak rawan bocor. Ini karena soal baru dibagikan menjelang siswa ujian, bukan beberapa hari sebelumnya. Setiap siswa dalam ruangan juga memiliki soal yang berbeda-beda,” tutupnya. (dwi/ila)

Breaking News