JOGJA – Cukup banyak perguruan tinggi swasta (PTS) di DIJ. Sayang hal itu tidak menjamin terdapat banyak mahasiswa yang belajar maupun tenaga pengajarnya. Buktinya dua PTS di DIJ akan ditutup. Karena dinilai tidak layak untuk menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Dua PTS yang akan ditutup tersebut dalam bentuk akademi. Salah satu dari dua PTS yang akan ditutupnya sudah tidak memiliki mahasiswa dan dosen.

“PTS itu sudah kami minta yayasannya untuk menutup,” kata Koordinator Kopertis V Dr Bambang Supriyadi ketika ditemui di Komplek Kepatihan Jogja seusai bertemu Gubernur DIJ, kemarin (11/4).

Kopertis V telah mengeluarkan surat penutupan dua PTS tersebut. Sayangnya Bambang enggan menyebut nama dua PTS tersebut. Tapi menurut dia, salah satu PTS tersebut masih memiliki mahasiswa, namun tak memiliki jumlah dosen yang memadai.

“PTS tersebut sudah tak dilaporkan ke Kopertis V selama lima semester berturut-turut,” tuturnya.

‪Selain itu. Lanjutnya, fasilitas pendukung di PTS tersebut juga tergolong tidak layak. PTS itu membuka jurusan maritim, namun tak memiliki laboratorium. Ruang kelas yang digunakan, berdasar pengamatannya seperti ruang kelas yang ada di sekolah dasar.‬

“Dengan fasilitas yang tidak mendukung, Bambang maka jelas tidak akan memberikan layanan pendidikan terbaik,” ujarnya.

Bambang menambahkan, pihaknya tidak fokus pada kuantitas tapi lebih kepada kualitas. Kedua PTS tersebut, sudah meminta waktu sampai bulan Juni untuk menentukan nasibnya. Apakah dijual, ditutup sendiri, atau diakuisisi.

“Buat apa banyak, tapi banyaknya itu PTS cilik-cilik ora jelas,” tegasnya.

Saat ini, jumlah PTS yang ada di DIJ sebanyak 106. Namun dua tahun terakhir, terdapat empat PTS yang berbentuk universitas, politeknik, dan sekolah tinggi mengajukan untuk berdiri di DIJ.‬ Empat PTS itu di bidang keilmuan kesehatan, Teknologi Informatika (TI), dan umum.

“Lokasinya di Sleman, Bantul, dan Kota Jogja,” ungkapnya‬

‪Terpisah mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi), Prof Edy Suandy Hamid mengatakan, Aptisi bersedia melakukan pembinaan untuk PTS yang terancam ditutup. Bahkan untuk PTS nonaktif untuk kembali hidup kembali. Dengan catatan, PTS tersebut memiliki tekad memperbaiki.‬

“Ke depan saya berharap harus ada tindakan preventif. Terutama bagi PTS yang berpotensi menghadapi masalah,” tandasnya. (pra/dem)

Breaking News