BANTUL – Dekat dengan sumber penyakit. Itulah kondisi kehidupan sehari-hari para pemulung di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Demi mengais rezeki, sekitar 600 pemulung di TPST yang terletak di Sitimulyo, Piyungan ini hampir setiap hari bergulat dengan ribuan bakteri berbahaya dari berbagai jenis sampah yang mereka pungut. Kondisi ini kemudian mendorong Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah bergerak memberikan pendampingan.

Ketua PP Muhammadiyah dr Agus Taufiqurrohman melihat ancaman penyakit mengintai para pemulung. Mulai penyakit kulit, pernapasan, hingga pencernaan. Itu tak terlepas dari banyaknya mikroba dari sampah yang dipungut para pemulung.

“Yang paling membahayakan bila ada sampah yang mengandung karsinogen,” terang Agus di sela Peresmian Pendampingan Komunitas Pemulung di TPST Piyungan, kemarin (10/4).

Karsinogen adalah zat yang menyebabkan penyakit kanker. Zat berbahaya ini diantaranya ditimbulkan dari limbah plastik. Seperti bekas botol minuman kemasan dan styrofoam. Atas dasar itu, fokus pendampingan yang akan diberikan adalah dalam bidang kesehatan.

Untuk merealisasikanya, lanjut Agus, PP Muhammadiyah telah berkoordinasi dengan stakeholder terkait. Salah satunya RS PKU Muhammadiyah Kota Jogja. Tujuannya meminimalisasi potensi penyakit.

“Kami mendorong para pemulung menerapkan pola hidup sehat. Tetapi, nantinya kami juga akan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan,” tuturnya.

Koordinator Komunitas Pemulung TPST Piyungan Maryono tak membantah para pemulung kerap menderita gangguan kesehatan. Paling sering adalah gatal, batuk, dan diare. Kendati begitu, para pemulung tak menghiraukannya. Mereka sehari-hari tetap memungut sampah. Tak jarang para pemulung juga saling berebut dengan ribuan sapi yang dilepasliarkan di TPST Piyungan.

“Mau gimana lagi. Kami cari makannya dengan mencari sampah,” tandasnya.(zam/dem)

Breaking News