ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
SIMULASI: Sejumlah peserta didik dan guru di sekolah dasar negeri SDN Baluwarti, Basen, Kotagede, Jogja saat mengikuti simulasi tanggap bencana di sekolah, kemarin (6/4). Hal tersebut dilakukan untuk kesiapan menanggapi bencana gempa bumi yang dulu pernah menimpa sekolah tersebut.
JOGJA – Bencana bagi warga Jogja merupakan risiko. Letak geografis yang masuk cincin api membuat Jogjakarta rawan dengan berbagai bencana. Salah satunya gempa bumi. Pemahaman sejak dini terhadap ancaman bencana sangat penting untuk diberikan pada anak-anak.

Seperti yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja. Mereka mulai memasukkan mitigasi bencana dalam kurikulum. Tahun ini, ada tiga SD yang telah menerapkannya sebagai Sekolah Siaga Bencana (SSB).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Edy Heri Suasana menjelaskan, ke depan seluruh SD di Kota Jogja akan menerapkan kurikulum mitigasi bencana. Totalnya ada 90 SD yang ada di Kota Jogja.

“Secara bertahap akan diterapkan kurikulum mitigasi bencana,” tandas Edy di sela pencanangan SD Baluwarti, Basen, Kotagede sebagai SSB, kemarin (6/4).

Selain SDN Baluwarti, dua SD lain yang sudah dicanangkan sebagai SSB sebelumnya ialah SDN Bangunrejo 1 dan SDN Bangunrejo 2. Kedua sekolah tersebut sudah dicanangkan sejak tahun lalu.

Di kedua sekolah yang pertama ini rentan terjadi banjir. Sebab, letak sekolah yang berada di pinggir Kali Winongo. Setiap hujan deras, sekolah kerap tergenang air. Sedangkan, SDN Baluwarti rentan bencana gempa bumi. Ini karena berada di tengah bangunan yang padat. Juga, daerah itu yang pada gempa 2006 lalu termasuk daerah yang rusak parah.

Edy menjelaskan, penerapan kurikulum sekolah siaga bencana, butuh persiapan setahun. Hal ini karena semua mata pelajaran yang diajarkan sesuai kurikulum harus diintegrasikan dengan siaga bencana. Guru juga harus mengajarkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Diakuinya, jenjang SD masih menjadi sasaran sekolah siaga bencana karena berkaitan dengan pembentukan nilai dan kesadaran. Terlebih siswa SD masih membutuhkan bantuan orang dewasa. “Berbeda dengan jenjang SMP atau SMA yang kemampuan motoriknya sudah cukup optimal,” katanya.

Implementasi SSB selain integrasi kurikulum pada semua mata pelajaran yang diajarkan, juga diagendakan pelatihan secara berkala. Namun, kegiatan pelatihan yang mengasah kemampuan antisipasi bencana tersebut akan diserahkan ke BPBD DIJ maupun BPBD Kota Jogja. (eri/ila/ong)

Breaking News