SETIAKY/RADAR JOGJA
BERDUKA: Serka Sudaryono, ayah almarhumah Wika Milati Mulaningtyas (tengah) saat menyalami kerabat yang takziah ke rumah duka di Blok H-3 No 16 di Kompleks Lanud Adisutjipto kemarin siang (26/3).
Wika Milati Mulaningtyas menyukai olahraga menantang adrenalin terjun payung sejak kelas dua di SMAN 2 Banguntapan, 2006 lalu. Ia pernah tersangkut di pohon dan pingganya retak. Namun keinginannya kuat menekuni olahraga ini. Keberaniannya, boleh jadi menurun dari sang ayah yang mantan anggota Paskhas TNI AU.
RUMAH di Blok H-3 No 16 di Kompleks Lanud Adisutjipto siang kemarin ramai pelayat. Sebuah karangan bunga duka cita berdiri di depan pintu ma-suk. Satu persatu tamu menya-lami Serka Sudaryono, ayah almarhumah. Ia tampak tak bisa menahan kesedihan diting-gal putri pertamanya itu. Sebelumnya, putrinya pamit untuk mengikuti Pelangi Nusan-tara Jogja Air Show (JAS) 2016, di Pantai Depok, Bantul, pada pukul 05.30 WIB. “Saya belum bisa wa-wancara, dengan Mas Tono saja ya,” ujarnya kepada Radar Jogja.Tono yang dimaksud adalah Tono Junaidi, senior Wika di Mataram Sprot Parasut Klub, tempat almarhumah belajar terjun payung pertama kali. Tono mengingat-ingat, Wika pertama kali ikut berlatih terjun payung sejak 2006. “Kalau tidak salah Desember 2006, dia masih ku-liah semester awal,” katanya.Ia mengatakan, Wika tertarik karena bapaknya yang berlatar belakang militer Paskhas TNI AU juga mendukung. Seperti peserta lain, perempuan kelahi-ran 24 Agustus 1991 itu meng ikuti tes masuk meliputi tes fisik dan lolos. “Ya ikut demo, latihan terjun walaupun masih junior. Di Jogja dan keluar kota ber-sama senior yang lain juga ikut,” imbuhnya.Selain itu, anak pasangan Serka Sudaryono dan Kuntari itu juga mengikuti pendidikan penerjun payung di Bandung selama enam bulan. Meliputi bagaimana keterampilan me-layang dan juga pendaratan. Tak heran apabila sebelum kecelaka-an kemarin, korban telah 125 kali menjalani penerjunan. “Kalau lecet-lecet itu sudah biasa. Sebenarnya Jumat kema-rin dia juga dua kali penerjunan dan tidak ada kendala. Turun dari ketinggian 6 ribu feet atau 2 kilometer. Kemarin masih sempat guyonan dan bercanda dengan teman lainnya. Kita sangat kehilangan,” katanya.Adik kedua almarhumah, Anjar Odi Herlambang, 17, mengata-kan, pagi sebelum kejadian, kakaknya masih sempat membangunkannya untuk salat Subuh. Lalu pada pukul 05.30 WIB sang kakak sudah bergegas ke Lanud Adisutjipto untuk be-rangkat terjun payung. “Tahu kabar meninggalnya Mbak Wika dihubungi bapak tadi jam 10-an, saya masih di sekolah dan langsung pulang,” katanya.Menurutnya, kakak perempu-annya itu memang sejak lama menyukai olahraga ekstrem seperti terjun payung. Dia biasa berlatih di sekitar kampus Se-kolah Tinggi Teknologi Adisut-jipto (STTA). “Pernah di dekat jalan STTA itu kan ada deretan pohon-pohon jati tinggi. Sempat dia tersangkut di situ, tapi cuma lecet-lecet,” ujarnya.Anjar mengatakan, kakaknya biasanya lebih dekat dengan sang ibu. Namun sejak lulus STTA di jurusan Informatika Informasi, ia sudah mulai diajak untuk ikut terjun payung. Seperti pener-junan tandem berdua. “Belum sempat terjun berdua, Mbak Wika sudah dipanggil duluan,” ungkapnya.Menurut rencana, jenazah Wika akan dimakamkan di pe-makaman umum Kradenan, Banguntapan, Bantul, hari Minggu (27/3) ini pukul 11.00 WIB. (riz/laz/ong)

Breaking News