SAR PARANGTRITIS FOR RADAR JOGJA, BERCHMAN HEROE/RADAR JOGJA
PERTOLONGAN PERTAMA: Tindakan medis sudah dilakukan setelah Wika Milanti Ayuningtyas berhasil dievakuasi dari laut. Namun, jiwanya tidak tertolong (foto kiri).
KENANGAN TERAKHIR: Wika Milati Mulaningtyas (dua dari kanan) saat hadir dalam reuni penerjun MSPC di Keboen Radja, Jumat malam (25/3) (foto kanan)
BANTUL – Hari kedua Jogja Air Show (JAS) 2016 diwarnai insiden kecelakaan. Kemarin (26/3) sekitar pukul 08.15 salah seorang penerjun payung perempuan bernama Wika Milati Mulaningtyas, 24, tidak bisa menyentuh titik pendaratan, runway Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) DIJ
Diduga karena terbawa arah angin, penerjun yang ber-alamatkan di Kompleks Blok H-3 No. 16 Lanud Adisutjipto itu malah nyemplung ke laut, be-berapa ratus meter selatan run-way.

Kendati berhasil dieva kuasi Tim SAR Pantai Parangtritis, penerjun FASI DIJ itu akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Tim SAR sudah berupaya se-maksimal mungkin. Dua per-sonelnya langsung berenang ke tengah laut melakukan penyelamatan. “Dari kejauhan sudah kelihatan dia akan jatuh ke laut,” terang Komandan Tim SAR Pantai Parangtritis Ali Su-tanto, yang ikut melakukan penyelamatan di laut.

Saat itu Ali bersama Hendro Triyono.

Titik jatuh Wika cukup jauh dari daratan. Sekitar 200 meter dari pinggir Pantai Depok.

Saat diselamatkan, posisi kepala Wika berada di bawah dan kaki di atas. Dengan kondisi kedua tangan serta tubuhnya terlilit tali dan terbungkus parasut. Dua personel Tim SAR sen-diri sempat kesulitan. Saat me-lepas lilitan tali dan parasut, personel Tim SAR sempat ikut terjebak di dalamnya.

Hal itu diperparah dengan tingginya gelombang. Saat itu, tinggi gelombang di Pantai Depok mencapai empat meter. Kondisi inilah yang me-nyebabkan lamanya proses eva-kuasi. Proses evakuasi menelan waktu hingga 15 menit.

Ken-dati begitu, kondisi Wika saat itu masih bernyawa. “Setelah kami pegang tubuhnya, langsung kami angkat ke atas sembari melepas tali dan para-sutnya,” papar Hendro.

Menurut Hendro, yang melilit tubuh Wika adalah parasut ca-dangan. Sebelum jatuh ke laut, Wika melepas parasut utamanya, sekitar 10 meter di atas permu-kaan laut. Sedianya, parasut cadangan ini akan dijadikan sebagai pelampung. Hanya, ting-ginya gelombang memicu pa-rasut gagal berkembang dan menjadi pelampung. Akhirnya malah melilit tubuh Wika. “Parasut utamanya jatuh di se-latan titik jatuhnya korban,” ung-kapnya.

Sesampainya di daratan, Wika sempat ditangani tim medis panitia JAS 2016, sebelum dibawa ke RS Rachma Husada. Dokter Dian, tim medis RS Rachma Husada memperkirakan Wika meninggal saat masih ber-ada di lokasi evakuasi. Bukan dalam perjalanan menuju rumah sakit. “Petugas medis di Pantai Depok sudah mengupayakan dengan alat, tapi tidak berhasil,” tambahnya. Selanjutnya, jasad Wika dibawa ke RS Harjolukito.

Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Imran Baidirus mengatakan, korban sudah melaksanakan prosedur landing di atas air dengan cut way empat meter sebelum jatuh ke dalam air. Ia juga me-ngatakan, kondisi cuaca pagi kemarin cukup mendukung. “Wika landing di air, semua prosedur sudah dilaksanakan, namun landingnya di pecahan ombak, dan sempat tergulung ombak. Korban sempat dise-lamatkan Tim SAR. Korban agak terpisah sendiri dari penerjun lain. Kami belum tahu perma-salahnnya apa,” katanya kepada wartawan di Lanud Adisutjipto, kemarin (26/3).

Imran mengatakan, saat di-selamatkan kondisi korban ma-sih hidup. Namun dinyatakan meninggal setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Rah-ma Husada. Wita termasuk atlet FASI yang mengikuti penerjunan bersama 44 penerjun lain yang dibagi tiga kali penerjunan. Atas kejadian itu, Imran meng-aku akan melakukan investi-gasi terkait penyebab jatuhnya korban di dalam air. “Lokasi pendaratan berada 35 meter dari bibir pantai, karena ombak besar sempat tergulung. Semua kejadian pasti akan dilakukan investigasi,” katanya.

Ia juga membantah parasut yang dikenakan korban menyulitkan korban saat sudah terjun ke air. Korban diketahui telah melepas parasutnya sekitar empat meter di atas air. Sementara dari hasil visum, korban diketahui mening-gal karena banyaknya air yang masuk ke dalam tubuhnya. “Dugaan meninggal karena tenggelam, banyak air yang ma-suk ke tubuh. Bukan karena terjerat parasut atau ada luka. Tidak ada luka, tidak ada patah tulang,” ujarnya memastikan.

Setelah kejadian kecelakaan itu, kegiatan terjun payung da-lam JAS di Pantai Depok pun dihentikan sementara. Sedang-kan selain kegiatan terjun pa yung, masih bisa dilanjutkan. Pihak Lanud dan penyelenggaran akan melakukan evaluasi. “Untuk penerjunan hari ini kita hentikan dulu. Kita akan evaluasi dulu. Setelah itu baru akan kita putuskan bagaimana kegiatan besok (hari ini, Red), karena puncak acara,” tandasnya.

Di tempat yang sama, penang-gung jawab penerjunan JAS Hendro Satrio mengatakan, Wika sudah dua tahun terakhir intens melakukan latihan untuk persiapan PON Jabar. Bahkan pada pembukaan Jumat (25/3) lalu, Wika juga sempat ikut da-lam dua kali penerjunan. Pada pagi hari Wika terjun menyusuri Pantai Krakal, Gunungkidul, dan pada sore harinya ia terjun me-nyusuri Pantai Depok. “Dengan penerjunan pagi ini, sudah 125 kali ia melakukan penerjunan,” katanya.

Ia mengatakan, saat di udara Wika sempat terpisah dari pe-nerjun lainnya yang berada di atas daratan. Hal itu salah satu yang masih akan dicari tahu, padahal saat itu kondisi cuaca dalam keadaan layak terjun. “Yang akan kita dalami kenapa Wika terbangnya bergeser ke atas laut. Padahal yang lainnya ada di atas daratan. Apa penyebabnya, apakah itu teknis parasut atau apa faktor angin, itu yang kita dalami,” katanya. (zam/riz/laz/ong)

Breaking News