MUNGKID – Ardi Suwito, warga Karet, Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, diduga bunuh diri di Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Mertoyudan. Aksi bunuh diri pria 25 tahun ini menggunakan pecahan kaca botol yang ditusukkan ke perutnya hingga ususnya terburai keluar. Keluarga menduga, Ardi nekat mengakhiri hidup karena tidak kuat mendapat tekanan petugas selama diperiksa.

Peristiwa ini berawal ketika Ardi diperiksa polisi terkait kasus tawuran warga antardusun. Ia diperiksa sebagai saksi kasus tawuran dan perusakan yang melibatkan warga Dusun Karet dan Nepak, Desa Bulurejo. Ardi diperiksa petugas dari Polsek Mertoyudan sejak Minggu (20/3) hingga Senin (21/3).

Data yang dikumpulkan di lapangan menyebutkan, aksi tawuran bermula ketika dua warga Dusun Nepak dan Karet, bertemu Sabtu (19/3). Keduanya saling memelototi hingga akhirnya terjadi pemukulan terhadap warga Karet. Tidak terima, warga yang tekena pukulan melaporkan ke rekannya.

Sabtu malam itu juga kedua kelompok, warga Dusun Nepak dan Karet terlibat tawuran. hingga akhirnya rumah salah satu warga Nepak rusak. Salah seorang warga Nepak juga terkena sabetan senjata tajam.

Dari peristiwa itu, Ardi yang hadir menggunakan motor pinjaman nyaris dihakimi warga Nepak. Motornya yang tertinggal dibakar massa. Esoknya harinya, Minggu (20/3) perwakilan warga dua dusun mengadakan pertemuan. Pada kesempatan itu, mereka sepakat kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan. Namun untuk kasus perusakan rumah, tetap dilanjutkan sesuai hukum yang berlaku. Ardi lalu diperiksa sebagai saksi di Mapolsek Mertoyudan.

“Senin siang saya menjenguk kakak (Ardi) di Polsek. Dia mengaku sejak Minggu diperiksa hingga Senin belum makan dan minum,” kata Fajar Sodik, 23, adik Ardi kemarin.

Karena merasa kasihan, ia pun lalu memberikan bekal makanan yang dibawa. Selama berbincang, Ardi mengaku pusing dan pasrah karena diperiksa petugas. Sebelum pulang, Fajar diminta polisi membuat surat pernyataan untuk kakaknya agar tidak mengulangi perbuatannya kembali.

Awalnya, Fajar diminta membuat surat pernyataan dua lembar untuk dirinya dan kakaknya. Namun Fajar seketika itu menolak, karena tidak ikut-ikutan dalam peristiwa tersebut.

“Polisi atas nama Pak Khamid lalu bilang setelah membuat surat pernyataan kakak saya akan disel. Kakak saya yang mendengar akan disel langsung berteriak meminta untuk tidak ditahan. Saya waktu itu mencoba untuk menenangkan hatinya,” ungkapnya.

Fajar pun keluar mencari materai dan kembali sekitar pukul 16.30. Namun, Ardi diketahui sudah dilarikan ke RSUD Tidar Kota Magelang. Ia diduga melakukan aksi bunuh diri di ruang tunggu Mapolsek Mertoyudan menggunakan pecahan botol kaca. “Kemungkinan kakak saya shock setelah diperiksa,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, Kapolres Magelang AKBP Zain Dwi Nugroho mengatakan, botol kaca yang digunakan bunuh diri adalah botol cairan pembersih lantai. Pelaku mengambilnya di ruang tunggu mapolsek. Sejumlah petugas langsung merebut pecahan kaca dan membawa korban ke RSUD Tidar.

Ardi sempat mendapatkan perawatan medis dan operasi besar mulai Senin malam pukul 19.00-21.30. Namun Selasa (22/3) pukul 04.00, kondisi kesehatannya memburuk dan akhirnya meninggal dunia. “Seusai percobaan bunuh diri, anggota saya sudah berusaha mencegah,” kata Kapolres.

Ia menjelaskan, Ardi diperiksa sebagai saksi terkait kasus perkelahian dan perusakan rumah. Polisi memeriksa Ardi dari Minggu dan rencananya akan dikembalikan pada Senin. Namun ia keburu bunuh diri. “Korban hanya dimintai keterangan sebagai saksi. Ia bukan tersangka perusakan dan penganiayaan,” tuturnya.

Kapolres mengaku akan mendalami kasus ini. Ia melakukan pemeriksaan internal untuk mengetahui ada tidakya pelanggaran etik yang dilakukan petugas. Ia menduga, Ardi bunuh diri karena merasa tertekan atas kasus ini. Selain itu motor yang dibakar massa saat ke lokasi kejadian adalah motor pinjaman.

“Namun yang pasti tidak ada kontak fisik antara korban bunuh diri dan petugas. Berdasar pemeriksaan, ini murni kasus bunuh diri,” jelasnya.

Ia mengaku tidak ada tekanan petugas saat pemeriksaan terhadap Ardi. Pemeriksaan internal nantinya juga untuk mengetahui adanya kelalaian petugas selama menjalankan tugasnya.

“Apakah ada kelalaian atau tidak, kami pasti akan terbuka. Tidak akan kami tutup-tutupi. Selama ini kami juga sudah memeriksa tiga petugas dan warga,” tuturnya. (ady/laz)

Keluarga Sebut Korban Sebelumnya Sehat

Ketua RT 05 RW 03 Dusun Karet, Bulurejo, Mertoyudan Nuurohman mengaku Ardi merupakan orang yang tidak neko-neko. Setiap hari ia bekerja sebagai pembuat cendol di desanya. “Dia orang yang baik. Setiap hari saya melihat ia pergi bekerja membuat cendol dan pulangnya sore,” katanya.

Ia sering melihat karena rumahnya dilalui Ardi ketika berangkat kerja. Ia mengaku tidak mengetahui persis peristiwa tersebut. Namun ia melihat sebelum meninggal dunia, Ardi nampak sehat. “Sehari sebelumnya, Ardi terlihat sehat bugar,” jelasnya.

Fajar Sodik menambahkan, keluarga menduga kakaknya mendapat tekanan terhadap kasus ini. Hal itu dapat dilihat ketika ia menjenguknya di Mapolsek Mertoyudan. Ardi merasa cemas selama diperiksa petugas. “Padahal kakak saya tidak ikut dalam kasus tawuran dan perusakan rumah. Keluarga minta keadilan,” harapnya. (ady/laz/ong)

Breaking News