MUNGKID – Lagi, kasus kejahatan seksual dengan korban anak-anak terjadi. Kali ini terjadi di wilayah hokum Kabupaten Magelang. Membuat miris, korbannya lima belas anak di bawah umur. Saat ini pelaku sudah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka. Bagi orang tua, sebaiknya waspada dengan perilaku orang-orang di sekeliling sang buah hati. Dari kasus yang sudah-sudah, pelaku justru dari lingkungan dekat si korban.

Kepolisian Resort Magelang menetapkan Muhammad Sirojul Malik, 18, warga Wonoroto, Windusari, Kabupaten Magelang sebagai tersangka. Pelaku ditangkap karena melakukan tindak pidana pencabulan anak di bawah umur. “Pelaku ditahan di Mapolsek Windusari,” ungkap Kapolsek Windusari AKP Purwanto, kemarin (11/3).

Purwanto menjelaskan, petugas langsung bertindak berdasarkan laporan polisi nomor LP/B/03/III/2016/Jateng/ResMgl/SekWds. Pelapornya adalah salah satu orang tua korban. Setelah memeriksa sejumlah saksi, polisi kemudian menetapkan pelaku sebagai tersangka.

Purwanto mengatakan, berdasarkan pemeriksaan, pelaku mengakui perbuatannya. Korban yang disodomi terdapat lima belas orang. Mereka semuanya masih di bawah umur. Antara lain AT, 10; NM, 14; PA, 7; MZ, 9; AM, 10; AS, 9; MN, 14; KI, 12; RB, 14; BA, 14. Juga HF, 14; YS, 10; SL, 13; SI, 13; dan MN, 14. “Seluruh korban merupakan tetangga dekat rumah pelaku,” jelasnya.

Dalam keterangan yang diberikan, tersangka mengaku sudah melakukan aksi pencabulan sejak empat tahun lalu. Terbaru, dia melakukan aksinya pada November 2015 lalu, korbannya adalah AT, 10. Saat itu, pelaku mengiming-imingi korban dan menjanjikan membuatkan sebuah layang-layang. Tindakan amoral itu kemudian dilakukan di rumah pelaku. Terakhir, pelaku mengaku melakukan pencabulan pada Jumat (4/3) di rumahnya terhadap korban YS, 10. “Tersangka melakukan pencabulan berupa sodomi terhadap korban,” ungkap Purwanto.

Kasubbag Humas Polres Magelang AKP Haris Gunardi menyampaikan, saat ini polisi masih melakukan penyelidikan. Hal ini untuk mengetahui kemungkinan ada korban lainnya. “Sejauh ini dari pengakuan tersangka telah mencabuli lima belas anak. Masih kami dalami,” ungkapnya.

Selain melakukan penyelidikan, saat ini petugas juga melakukan koordinasi dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, agama, dan pemuda setempat. Ini dilakukan untuk menjaga situasi di lingkungan korban.

“Tersangka akan dijerat dengan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak atau pasal 292 KUHP. Ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara,” kata Haris.

Psikolog Ega Asnatasia Maharani, MPsi, Psi mengatakan, korban anak-anak membutuhkan pendampingan yang dilakukan oleh tenaga professional atau psikoterapi. Sebab, mereka membutuhkan penanganan trauma healing secara bertahap.

Proses trauma healing ini beragam, mulai dari dijauhkan sementara dari lingkungan. Terutama lingkungan yang dekat dengan peristiwa pencabulan. Adapula penanganan yang lebih serius saat korban mengalami trauma berkepanjangan. Untuk menangani trauma berkepanjangan ini butuh penenang atau farmakologi.

“Pendampingan ini bisa dilakukan oleh seorang psikolog maupun psikiater. Diawali dengan menilai dan melihat sejauh mana trauma yang dihadapi anak. Dilanjutkan dengan intervensi agar anak bisa berdamai dengan peristiwa tak menyenangkan yang pernah dialaminya. (ady/ila/ong)

Breaking News