Zakki Mubarok
KONTROVERSIAL- Nahdliyin (sebutan bagi warga Nahdlatul Ulama) Bantul memprotes buku berjudul “Sunnah-Sunnah Setelah Kematian” karya Zainal Abidin bin Syamsuddin. Buku terbitan Dinsos Bantul tersebut dianggap menyudutkan Nahdliyin.
BANTUL- Lagi-lagi buku berunsur ajaran keagamaan diprotes elemen masyarakat. Kali ini Dinas Sosial (Dinsos) Bantul yang menjadi sasarannya. Buku berjudul “Sunnah-Sunnah Setelah Kematian” yang digandakan dan didistribusikan oleh Dinsos diprotes Nahdliyin, sebutan bagi warga Nahdlatul Ulama (NU).

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawwawi Jejeran, Wonokromo, Pleret Uwaisun Nawwawi keberatan dengan sebagian isi buku karya Zainal Abidin bin Syamsuddin yang dinilai kontroversial. Tepatnya pada bab III, halaman 37 dari buku setebal 120 halaman tersebut. Gus Wes, begitu sapaan akrab Uwaisun Nawwawi, merasa dirugikan dengan substansi bab tentang “Amalan yang Merugikan Mayat”. Gus Wes merasa isi bab tersebut telah menyudutkan Nahdliyin.

Bab itu menyebutkan klaim tentang sejumlah ritual terlarang bagi umat Islam. Misalnya, upacara duka menerobos bagian bawah keranda jenasah, kenduri, tahlilan, hingga doa yasinan. Bahkan, buku tersebut menyebut bahwa tahlilan yang selama ini kental bagi warga NU disebut sebagai tradisi warisan Hindu dan Firaun. Bahkan, bukan hanya warga NU, hampir sebagian besar umat Islam di Pulau Jawa melakukan ritual tersebut.

Yang paling disesalkan Gus Wes, Dinas Sosial menggandakan an mendistribusikan buku tersebut dengan dana APBD tanpa pengkajian bersama para ulama. Padahal, buku itu dibagikan kepada para rois se-Bantul, sebagai pegangan. “Rois di Kecamatan Sanden, Srandakan, dan Pandak sudah menerimanya,” bebernya kemarin (7/3).

Karena itu, Gus Wes mendesak pemerintah segera menarik kembali buku tersebut untuk dimusnahkan.

Gus Wes menengarai, jika dibiarkan keberadaan buku tersebut bisa memicu konflik sosial. “Dinsos tidak selektif memilih buku panduan rois. Materinya tidak mencerminkan kehidupan beragama di Kabupaten Bantul,” sesalnya.

Masalah buku tersebut ternyata sudah menyebar di masyarakat. Ketua Komisi D DPRD Bantul Enggar Suryo Jatmiko mengaku telah mendengar kabar buku kontroversial itu. “Besok (hari ini) Dinsos kami panggil untuk klarifikasi,” ujarnya.

Sementara itu, hingga kemarin sore, Plh Kepala Dinsos Bantul Mahmudi belum dapat dikonfirmasi untuk dimintai keterangan tentang persoalan tersebut.(zam/yog/ong)

Breaking News