JOGJA – Rencana Kementerian Sosial memasukkan Pasar Kembang (Sarkem) jadi salah satu sasaran lokalisasi yang akan ditutup menyisakan persoalan di lapangan. Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja masih mendata masalah sosial yang sangat kompleks. Tak hanya sekadar solusi bagi pekerja seks komersial (PSK) saja. Warga setempat juga jadi pertimbangan.

“Masih dibahas terus dengan warga di sana (Pasar Kembang),” ujar Kepala Dinsosnakertrans Kota Jogja Hadi Mochtar, kemarin (6/3).

Dia mengatakan, kendala yang dihadapi adalah masalah sosial. Itu pun, tak bisa hanya Pemkot Jogja. Harus ada peran dari Pemprov DIJ, karena menyangkut antisipasi perpindahan tempat para PSK ke lokasi lain. “Kalau anggaran, yang jelas Kemensos siap. Kapan pun, mereka siap,” katanya.

Tapi, anggaran dari Kementerian di bawah Khofifah Indar Parawansa itu, hanya mencakup fasilitasi bagi PSK. Berupa pendampingan bagi PSK agar bisa mentas. Juga, transportasi untuk mengantarkan PSK pulang ke daerah asal.

“Itu (masalah PSK) saya yakin bisa. Yang jadi persoalan malah warganya. Mereka pasti menolak jika keuntungan ekonominya hilang,” ungkapnya.

Makanya, kini Dinsosnakertrans Kota Jogja lebih fokus untuk mencarikan solusi bagi warga setempat. Mereka tengah berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait. “Kami carikan solusi, misalnya dengan kompensasi pembangunan hotel. Karena, di sana kan kawasan penginapan,” terangnya.

Saat ini, pengembangan kampung wisata di Sosrowijayan ini memang sudah pesat. Kampung Sosrowijayan sudah terkenal bagi turis backpacker. Sementara, secara geografis, lokalisasi Sarkem hanya sebatas di sekitar gang selebar satu meter.

Ketua RW 03 Sosrowijayan Kulon Sarjono mengaku, warga tak keberatan asalkan tujuannya memuliakan semua pihak. Tanpa harus menghakimi PSK atau warga setempat. Mereka menolak kalau pemkot melakukan penertiban tanpa ada solusi.

Diungkapkan, warga asli yang memiliki rumah atau tempat tinggal di Sarkem ini memang banyak yang pindah. Mereka memilih menyewakan rumahnya untuk penginapan dan usaha lain. Kalau pun ada warga asli Sosrowijayan Kulon yang tinggal di sana, biasanya anak-anaknya saat tumbuh dewasa bakal hijrah. Mereka akan dicarikan kontrakan atau tempat tinggal di luar. Ini adalah bentuk dari menjaga anak-anak di sana agar bisa tumbuh kembang dengan baik. Tanpa khawatir terpengaruh dengan lembah hitam prostitusi.

Salah satu warga, Sundari menolak rencana penutupan. Sebab, berkaca pada dirinya, tak ada satu pun keluarganya yang terpengaruh. Salah satu anaknya, kini malah menetap di Amerika Serikat. “Tiga anak saya semua sarjana. Semuanga jadi orang bener,” tandasnya.

Dia mengatakan, ada kesepakatan antarwarga setempat. Pengelola karaoke tak boleh mengganggu warga. Terhadap tawaran pemkot, Sundari mengaku, sampai saat ini belum ada. Jika ada pasti mereka akan mempertimbangkannya. (eri/ila/ong)

Breaking News