Adi Daya Perdana/Radar Jogja
CARI EMAS: Aparat gabungan dari TNI dan Polri saat menutup paksa penambangan emas di Perbukitan Menoreh, tepatnya di Dusun Gupit, Kebonsari, Borobudur, Kabupaten Magelang, kemarin (1/3).
MUNGKID – Petugas gabungan dari TNI dan Polri menutup paksa penambangan di kaki Perbukitan Menoreh kemarin (1/3). Aktivitas penambangan yang diduga emas itu tidak memiliki izin dari Pemerintah. Lima orang penambang di Dusun Gupit, Kebonsari, Borobudur, akhirnya diinterogasi dan mulai kemarin menghentikan penambangan itu.

“Sebelumnya Pemerintah Desa Kebonsari melalui kepala desa sudah memperingatkan aksi penambangan yang diduga emas secara ilegal itu. Namun penambang cuek saja,” kata Camat Borobudur Nanda Cahyadi Pribadi kemarin.

Karena tidak diindahkan, petugas gabungan dari TNI-Polri akhirnya turun tangan. Camat Borobudur dan jajaran ikut serta mendatangi lokasi penambangan itu. Munculnya aktivitas penambangan ini setelah warga merasa resah dengan aktivitas tersebut.

“Kami langsung menyuruh menghentikan penambangan ilegal detik itu juga. Meskipun penambangan di lahan sendiri, tetapi harus ada izinnya. Apalagi di daerah sini termasuk daerah rawan lonsor,” jelasnya.

Selain rawan longsor, warga sudah mulai resah terhadap aktivitas penambangan. Mereka khawatir air dari bekas galian penambangan akan mencemari lingkungan. Hal ini karena penambangan juga berada di pinggir sungai. “Air sungai di sekitar lokasi tambang banyak digunakan warga,” ungkapnya.

Kapolsek Borobudur AKP Amin Supangat menegaskan, penambangan yang diduga mengandung emas dan mangaan itu sudah beroperasi satu bulan. Akivitas itu jelas tidak memiliki ijin. Lokasi penambangan berada di pinggir bukit lahan milik Milon, 52, warga Dusun Gupit, Kebonsari, Borobudur.

“Tanah yang mereka tambang sudah berkedalaman 7 meter dengan lebar 1 meter persegi. Menurut pengakuan penambang belum mendapatkan hasil emas. Kami juga belum bisa memastikan lahan itu mengandung emas atau tidak,” jelasnya.

Pada saat penutupan itu, petugas menemukan empat orang penambang di lokasi kejadian. Mereka diperingatkan keras untuk menghentikan aktivitas penambangan karena membahayakan lingkungan. Berdasarkan pengakuan pemilik lahan, di lokasi itu dulu pernah ditemukan tanah yang memiliki kandungan emas.

“Makanya pemilik lahan dan teman-temanya nekat menggali lahan untuk mencari emas dengan alat seadanya,” urai Kapolsek.

Ia menyebutkan pelaku penambangan berjumlah lima orang, termasuk Milon (pemilik lahan). Sedang empat orang adalah Santosa, 35, dan Kasijeri, 53, warga Dusun Siji, Ngadihardjo, Borobudur. Dua lainnya merupakan pendatang yakni Sutomo, 29, warga Sanggaran Banyuwangi, Jawa Timur, dan Herman Saputra, 34, warga Sarapu Km 13 Simalungun, Sumatera Utara.

“Kami masih melakukan pendekatan persuasif. Tetapi besok kalau masih nekat, lokasi tambang kami pasang police line. Pelaku akan kita tindak sesuai aturan,” tegas Amin.

Sementara itu, para penambang akhirnya bersedia menghentikan penambangan manual di lahan yang diduga mengandung emas tersebut. Mereka berjanji tidak akan beroperasi kecuali sudah mendapatkan izin dari pemerintah. (ady/laz/ong)

Breaking News